Pematang Para Belalang

Tags

, ,

Sewaktu masih kanak-kanak dulu, beberapa hal yang kami sukai adalah mencari jangkerik, menerbangkan layang-layang, dan berburu belalang. Namun, dari beberapa hal yang kami sukai itu, berburu belalang-lah yang paling kami sukai.

Biasanya kami berburu belalang di waktu-waktu masim hujan, di mana adakalanya kami berburu dalam guyur hujan dan adakalanya dalam keadaan gerimis kecil selepas hujan –dengan menggunakan batang-batang pohon songler kami sebagai pemukul.

Tentu saja belalang-belalang itu ada yang kecil, ada yang sedang ukurannya, dan ada yang besar, di mana memang ada ragam jenis belalang.

Kami memburu mereka saat mereka terjebak hujan dan genangan air di sawah-sawah tempat kami memburu mereka, di mana mereka kesulitan untuk terbang, dan kalau pun mereka berusaha terbang, kami akan segera memukul mereka dengan batang-batang pohon songler kami.

Saat mereka mengapung dan terkapar di atas genangan air di sawah-sawah itulah kami akan mengambil mereka dan memasukkan mereka ke wadah-wadah kami yang telah kami ikatkan di pinggang atau di celana pendek kami.

Adakalanya kami melakukannya di pagihari, sianghari, atau di sorehari, tergantung kapan hujan itu sendiri turun. Itu kami lakukan ketika kami masih duduk di kelas 3 hingga kelas 5 sekolah dasar kami, yang kebetulan berada di samping desa kami.

Bila kami sudah merasa cukup banyak mendapatkan atau memburu mereka, kami menyerahkannya kepada ibu kami untuk digoreng atau dimasak, yang adakalanya kami makan sebagai lauk makan kami.

Ibuku sendiri akan menggoreng belalang hasil buruanku itu dengan dicampur bawang goreng dan sedikit dibuatkan bumbu, sehingga terasa lezat sebagai pelengkap nasi –dan aku akan makan dengan lahap sekali.

Sulaiman Djaya (2006)

Sulaiman Djaya oleh Asep S Bahri

Diplomasi Bunga Soekarno (Korea Utara Memandang Indonesia)

Tags

, , , , , , , , ,

Siswa Korea Menyanyikan Lagu Indonesia

Sejauh menyangkut hubungan antar negara di dunia ini, negara yang sangat dihormati Korea Utara adalah Indonesia, selain Rusia dan China.

Presiden Soekarno telah banyak menjalin persahabatan dengan negara lain, terutama dengan negara-negara yang dinilai anti Amerika (hingga konon lengsernya Bung Karno juga dikarenakan adanya campur tangan Amerika) diantaranya: Kuba, Tiongkok (China), Uni Soviet (kini Federasi Rusia), dan Korea Utara.

SOEKARNO DAN KIM IL SUNG
Sejak dulu Korea Utara selalu mendapatkan pertentangan Barat-Amerika dkk, terkait paham ideologi mereka, juga karena aliansi Korea Utara yang cenderung ke poros Rusia-Cina. Dalam kasus Suriah saat ini, contohnya, Korea Utara berpihak kepada aliansi Cina, Rusia, Iran dkk untuk menghadapi imperialisme Amerika, Israel, Rezim Saudi Arabia dkk, NATO dkk yang menggunakan kelompok-kelompok pemberontak dan fron-fron teror seperti ISIS untuk menggulingkan Presiden Suriah Bashar Al-Assad.

Namun Indonesia tak memandang ini sebagai sebuah tembok besar yang menghalangi dua negara untuk menjalin hubungan. Presiden Soekarno sendiri untuk pertama kalinya mengunjungi Korea Utara di tahun 1964.

Sambutan kepada Presiden ternyata sangat bagus dan apresiatif. Bahkan Kim Il Sung juga membalas kunjungan ini bersama anaknya Kim Jong Il di bulan April tahun 1965. Kehadiran mereka berdua kala itu, sekaligus untuk mengikuti peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika pertama yang diadakan pada tahun 1955 di Bandung. Di KAA pertama itu, Soekarno memberikan wadah bagi Korea Utara untuk bisa berkiprah di dunia Internasional.

Duta Besar Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK), sering disebut Korea Utara, Ri Jong Ryul, misalnya, mengatakan presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno dan pendiri sekaligus presiden DPRK Kim Il Sung memiliki hubungan yang istimewa. “Hubungan antara Presiden Soekarno dan Presiden Kim Il Sung sangat istimewa dan tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Presiden Soekarno juga dikenal baik oleh rakyat DPRK,” ujar Ri Jong Ryul.

Menurut Ri, eratnya hubungan Soekarno dan Kim Il Sung dimulai sejak tahun 1964 ketika Proklamator Indonesia itu melakukan kunjungan resmi ke DPRK (Korea Utara), yang dibalas dengan kunjungan Kim Il Sung dan anaknya Kim Jong Il ke Indonesia pada April 1965.

Pada tanggal 13 April 1965, Kim Il Sung, Presiden Korea Utara saat itu, melakukan kunjungan ke Indonesia. Untuk menyenangkan tamunya, Presiden Soekarno mengajak Kim Il Sung berjalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Ketika mereka melewati deretan tanaman anggrek yang sedang mekar, Kim Il Sung tampak begitu terpesona dengan anggrek jenis “dendrobium” asal Makassar, Sulawesi Selatan.

Kim Il Sung mengungkapkan bahwa anggrek itu begitu indah dan warna merah muda yang indah menunjukkan keanggunan dan martabatnya.

Melihat tamunya tertarik dengan bunga tersebut, Presiden Soekarno pun memberikan anggrek tersebut pada Kim Il Sung sebagai hadiah ulang tahun. Pada saat itu Presiden Soekarno pun berinisiatif memberi nama anggrek itu dengan perpaduan nama Kim Il Sung dan Indonesia, dan jadilah nama “Kimilsungia” atau dalam Bahasa Korea disebut “Kimilsunghwa” (bunga Kim Il Sung).

Anggrek itu pun dibawa ke Korea Utara untuk dirawat dan dikembangbiakkan menjadi lebih baik. Sejak saat itu “Kimilsungia” ditetapkan sebagai bunga nasional Korea Utara. Di Korea Utara “Kimilsungia” memiliki 7 kuntum tiap tangkai, sedangkan di Indonesia rata-rata hanya memiliki 3 kuntum.

“Karena itulah negara kami tidak akan pernah melupakan Indonesia,” ujar Ri, yang negaranya pada bulan April setiap tahunnya, sejak tahuh 1999, merayakan Festival Kimilsungia untuk memeringati ulang tahun Kim Il Sung dan menghormati hubungan dengan Indonesia. Dalam festival ini segala macam varian bunga terutama anggrek dipamerkan. Diplomasi ala bunga ini menjadikan Indonesia memiliki tempat istimewa di hati rakyat Korea Utara.

Bahkan Pemerintah Indonesia adalah satu-satunya pihak yang mendapat kehormatan untuk menyampaikan kata sambutan tiap festival ini berlangsung. Diplomasi ala Bunga ini juga membuat hubungan Indonesia dan Korea Utara menjadi dekat, sehingga sampai saat ini Indonesia dan Korea Utara sering melakukan pertukaran budaya. Tak heran bahwa bunga Kimilsungia dianggap juga sebagai simbol persahabatan Indonesia dan Korea Utara.

Gadis Korea Utara

Members of the North Korean girl group Moranbong arrived in Beijing

Gadis Korea Utara 2