Ladang, Sawah, Sungai

Tags

, , ,

oleh Sulaiman Djaya, esais dan penyair

Suatu ketika bocah lelaki memandangi matahari pada wajah sungai di antara pematang-pematang sawah. Matahari yang dalam khayalannya dipatuki beberapa ekor unggas yang bermain-main di sungai tersebut. Ia baru sadar waktu telah menjelang magrib ketika ibunya memanggilnya untuk pulang setelah selesai menumpuk batang-batang padi yang ia potong bersama ibunya menggunakan arit.

Ia telah akrab dengan padi, sungai, sawah. Dengan burung-burung dan para unggas. Dengan gerak serta kersik daun-daun pohonan. Dan salah-satu pekerjaan masa kanaknya yang paling ia sukai adalah berburu belalang bersama kawan-kawannya di musim hujan. Belalang-belalang hasil buruannya itu kemudian ia serahkan kepada ibunya untuk digoreng sebagai menu makan malam.

Jika ada orang-orang yang sangat terikat dan mencintai kampung halaman atau tanah kelahirannya, salah-satu orang itu adalah saya. Kampung halaman bagi saya tak sekedar ruang meja baca di mana saya menyendiri, menulis, dan membaca, atau sebuah “rumah” tempat saya tidur dan makan. Lebih dari itu, kampung halaman atau tanah kelahiran bagi saya adalah ingatan dan kenangan.

Kampung halaman atau tanah kelahiran saya menyatu dengan bathin saya, karena saya mengalami “kepedihan” dalam kesahajaan dan keterbatasan kami sebagai orang-orang desa yang sederhana. Sebagai manusia-manusia yang akrab dengan apa yang hanya diberikan oleh alam yang belum disentuh oleh kecanggihan tekhnologi dan perangkat-perangkat informasi mutakhir ketika itu.

Di belakang rumah, setidak-tidaknya saat saya masih kanak-kanak, dalam jarak beberapa meter melewati pematang-pematang sawah, mengalir sungai Ciujung yang di tepiannya berbaris pepohonan dan tanaman-tanaman lainnya. Sementara di depan rumah, mengalir sungai irigasi, sungai yang dibuat demi mengalirkan limpahan air sungai Ciujung untuk mengairi sawah-sawah di jaman kolonial Hindia Belanda, dan kemudian diteruskan perawatan dan perbaikannya hingga saat ini.

Dua sungai tersebut merupakan “kehidupan” kami yang bekerja dan menggantungkan kebutuhan kesehariannya dari bertani. Dari dua sungai itulah kami mengairi sawah-sawah kami, selain tentu saja dari anugerah hujan di musim hujan. Bersama dua sungai dan sawah-sawah di sekitarnya itulah saya akrab dan hidup bersama mereka.

Namun tentu saja, keadaannya tidak sama dengan sekarang. Ketika itu, bila malam tiba, atau saat adzan berkumandang yang dikumandangkan dengan menggunakan speaker bertenaga ACCU, kami akan mulai menyalakan lampu-lampu damar kami yang menggunakan bahan bakar minyak tanah atau minyak kelapa. Sebelum kehadiran tiang-tiang beton dan baja seperti saat ini untuk menyalurkan kabel-kabel listrik di setiap kampung, jalan di depan rumah begitu sepi bila magrib tiba, lebih mirip terowongan gelap karena barisan pohon-pohon lebat yang tumbuh kokoh dan rimbun di tepi sungai dan sepanjang jalannya.

Kebetulan keluarga saya memiliki tanah yang cukup luas untuk menanam Rosella, atau tanaman apa saja yang dapat dijadikan komoditas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bila panen tiba, ibu saya akan menggoreng biji-biji Rosella tersebut dan anak-anaknya (termasuk saya) akan membantu menumbuknya hingga menjadi bubuk kopi yang kami kemas dalam plastik-plastik mungil yang kami beli dari pasar.

Seingat saya, selain menanam Rosella, keluarga kami juga menanam kacang panjang. Dari hasil penjualan bubuk kopi Rosella dan kacang panjang itulah keluarga kami memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kami dan membiayai sekolah kami. Saya, misalnya, bisa membeli buku tulis atau buku-buku yang diwajibkan di sekolah. Singkatnya, kami hidup dari hasil mengolah tanah dan menjual komoditas yang dihidupkan oleh tanah dan alam, sebab ketika itu belum ada sejumlah pabrik seperti sekarang.

Saya juga masih ingat ketika ibu saya membuat sambal dari kulit buah Rosella yang berwarna merah itu agar sambal yang dibuat ibu cukup untuk semua anggota keluarga, sebab cabe rawit yang kami tanam tidak sebanyak seperti kami menanam singkong, ubi jalar, kacang panjang, dan Rosella.

Di saat saya sudah kuat memegang cangkul, kalau tak salah ketika saya telah duduk di sekolah menengah pertama, sesekali saya lah yang mengolah tanah dan membuat gundukan batang-batang pematang di mana kami menanam kacang dan Rosella. Tak jarang saya juga yang menyiraminya di waktu sorehari.

Itu adalah masa-masa di tahun 80-an ketika kami menggunakan batang-batang kayu kering untuk menyalakan dapur dan memasak. Sebab kami hanya mampu membeli minyak tanah cuma untuk bahan bakar lampu-lampu damar kami.

Selepas magrib, saya akan membawa salah-satu lampu damar tersebut ke langgar atau ke rumah seorang ustadz kami untuk belajar membaca dan mengeja Al-Qur’an. Itu saya lakukan setelah ibu saya sendiri yang mengajari saya tentang beberapa doa penting dan mengenalkan huruf-huruf hijaiyyah dan mengajarkan saya membaca dan mengeja Al-Qur’an sebelum saya duduk di sekolah dasar yang kebetulan ada di depan rumah. Selain itu, ibu saya juga mengajarkan saya beberapa sholawat-sholawat pendek.

Aktivitas lain yang saya lakukan adalah menunggui padi-padi dari serbuan para burung di sorehari selepas sekolah, di saat biji-biji padi itu mulai menguning. Seingat saya, saya suka sekali duduk (mungkin dari situlah saya terbiasa merenung dalam kesendirian) di dekat serimbun pohon bambu yang tumbuh rindang dan asri di dekat sawah. Saya juga menarik ujung tali yang saya pegang, beberapa meter tali yang ujung lainnya yang terikat ke orang-orangan sawah yang dibuat oleh ibu saya. Kami menyebut orang-orangan sawah dari jerami, bilahan-bilahan bambu, dan kain-kain bekas itu, dengan nama jejodog.

Demikian, dalam rekonstruksi saya saat ini, ingatan dan kenangan saya tentang kampung halaman atau tanah kelahiran saya, membathin dan menyatu dengan saya di saat-saat saya merenung dalam kesendirian di saat saya duduk di serimbun bambu tersebut.

Dalam kesendirian itulah, sesekali saya suka sekali mengarahkan pandangan mata saya ke arah langit senja. Ke arah burung-burung yang beterbangan bersama hembus udara sore hari, udara yang juga mengerakkan pepohonan bambu di mana saya berada demi menjalankan perintah ibu saya sebagai seorang anak. Dan bila masa panen tiba, saya pun akan membantu ibu saya memotong batang-batang padi dengan alat pemotong yang mirip celurit kecil yang kami sebut arit. Dengan demikian, kehidupan masa kanak dan masa remaja saya telah sedemikian akrab dengan langit dan sawah-sawah.

Tak hanya itu saja yang membuat saya tanpa sengaja begitu terikat dengan kampung halaman dan tanah kelahiran saya. Barangkali yang dapat dikatakan sebagai “kepedihan” pertama saya adalah ketika adik perempuan yang bermata indah dan berwajah cantik meninggal karena demam. Seingat saya, saya menangis di belakang rumah karena peristiwa tersebut. Mungkin kesedihan saya adalah karena ia adalah orang yang pertama yang begitu dekat dan akrab dengan saya, yang senantiasa bersama saya dan senantiasa menangis bila saya tinggalkan.

Dengan sedikit paparan itu, kampung halaman dan tanah kelahiran bagi saya adalah tempat di mana saya menyimpan sebuah cerita dan pengalaman “kepedihan” saya bersamanya. Ia adalah sebuah konteks dan tempat di mana ingatan dan kenangan saya berada dalam ketakhadirannya di waktu sekarang. Ia adalah sebuah bingkai dan kanvas yang belum digambar, yang hanya bisa saya rekonstruksi saat ini ketika saya mulai belajar untuk menarasikannya dalam sekian fiksi, dalam sejumlah puisi-puisi yang saya tulis.

Ingatan dan kenangan itu memang tak ubahnya hanya upaya untuk “merekonstruksi” sebuah peristiwa dan konteks yang sebenarnya sudah tidak ada, namun jejak bathinnya masih senantiasa ada ketika saya berusaha merekonstruksinya demi sebuah fiksi –demi sejumlah puisi yang saya tulis.

Singkat kata, kampung halaman atau tanah kelahiran adalah sebuah “historiografi personal” sekaligus sebuah fiksi yang membuat saya begitu terikat dengannya. Ia adalah latar dominan yang membentuk relung bathin saya karena di sanalah saya pernah mengalami “kepedihan” saya, selain tentu saja sekian kegembiraan yang saya rayakan.

Advertisements

Ragam Islam

Tags

, , , , , , , ,

oleh Sulaiman Djaya, esais dan penyair (Sumber: Radar Banten, 14 Juni 2013)

Setidak-tidaknya, sejak abad ke-16, ketika bangsa-bangsa Eropa melakukan ekspansi politik dan militer ke jazirah-jazirah Islam, dan bersamaan dengan runtuhnya kekhalifahan Ottoman alias Turki Usmani, kaum muslim mendapati dirinya dalam ujian dan situasi yang berat: terpaksa menerima takdir mereka sebagai masyarakat yang tertaklukkan, setelah selama berabad-abad menjadi masyarakat penakluk hingga ke jazirah Peninsula Iberica atau yang kini dikenal sebagai Spanyol.

Di masa-masa itu, orang-orang Ingris dan Prancis menjadi penakluk kawasan Timur Tengah dan Afrika, semisal Mesir, sementara orang-orang Portugis dan Belanda melakukan persaingan dan “hegemoni” perdagangan di kota-kota maritim di Nusantara, bersama-sama dengan para pedagang dan para saudagar dari Tiongkok setelah mereka memporak-porandakan sejumlah Kesultanan di Nusantara.

Itulah masa-masa, yang menurut para sejarawan, sebagai masa dunia Islam yang terdesak dan terjajah secara politik dan ekonomi oleh Barat, yang kemudian di masa selanjutnya melahirkan nasionalisme dalam diri bangsa-bangsa yang mayoritas penduduknya menganut Islam, tak terkecuali Indonesia. Tetapi, bersamaan dengan itu pula, Islam dan kaum muslim justru dapat bersentuhan dan berkenalan dengan modernisme Barat, entah melalui hadirnya institusi-institusi sekular yang didirikan oleh orang-orang Eropa di negeri mereka, atau pun lewat sejumlah kaum muslim yang mendapatkan pendidikan Barat dan modern.

Berkah Tersembunyi
Sejumlah kalangan menyebut hal itu sebagai berkah tersembunyi dari ekspansi Barat di dunia-dunia dan negeri-negeri kaum muslim, meski tak sedikit yang mengatakan bahwa persentuhan Islam dan kaum muslim dengan modernisme juga dikatakan sebagai tak ubahnya kembalinya kearifan Islam, yang dirawat Barat ketika Islam menjadi sejumlah imperium penakluk dan pencipta peradaban, ke pangkuan ummat Islam. Amartya Sen, misalnya, mengatakan bahwa meski kemudian Barat menjadi maju, tapi dunia Islam dapat dikatakan sebagai agen pertama yang “membangunkan” Eropa dan Barat dari tidur kegelapannya ketika Islam hadir sebagai kemajuan pengetahuan dan peradaban di Iberica Peninsula, alias Spanyol itu. Juga ketika sejumlah ilmuwan, filsuf, dan penulis Islam menerjemahkan karya-karya Yunani yang akhirnya dibaca Barat

Ragam Sikap dan Reaksi
Dalam kondisi yang terdesak dalam keberhadapan-nya dengan Barat sekaligus persentuhannya dengan modernitas, itu setidak-tidaknya telah melahirkan ragam sikap, pemikiran, dan reaksi di kalangan kaum muslim sejauh tentang Islam itu sendiri dan terhadap Barat. Namun, secara garis besar dan secara umum, terdapat dua golongan, aliran, dan kelompok yang terbilang dominan dalam konteks yang demikian.

Pertama, mereka yang lazim dilabeli sebagai kaum atau kelompok apologetik dan konservatif yang berusaha dan bertujuan mempertahankan nilai-nilai Islam “sebagaimana adanya” secara verbal dan tekstual. Sementara itu, yang kedua, adalah mereka yang mengakulturasikan nilai-nilai positif sekular Barat yang menurut mereka tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri, alias malah sejalan dengan spirit humanisme yang terkandung dalam ajaran-ajaran Islam. Kelompok dan golongan yang kedua ini adalah mereka yang lazim disebut sebagai kaum reformis Islam, yang berusaha menyelaraskan warisan tradisional Islam sembari “mengkontekstualisasikannya” dengan perkembangan dan kebutuhan dunia modern.

Para Eksponen
Setidak-tidaknya, dari dua kelompok dan golongan itulah lahir sejumlah para eksponennya yang populer dan dikenal secara publik dan di kalangan akademik terbatas. Dalam hal ini, kita bisa menyebut tokoh-tokoh semisal Jamaluddin al Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Sayyid Qutub, Hasan al Bana, Amir Ali, Mohammad Iqbal, dan yang lainnya. Tokoh-tokoh itu kemudian cukup mewarnai ragam pemikiran dan ideologi di kalangan kaum muslim semasa dalam “penguasaan” Barat tersebut, atau semasa mereka aktif membangun nasionalisme dan kesadaran berbangsa, dan setelah mereka mencapai kemerdekaan dari dan terhadap Barat.

Di masa-masa inilah lahir ragam sikap dan penafsiran, yang masih tetap terasa jejaknya hingga sekarang, termasuk di dalamnya soal Islam dan politik. Sebagian kalangan dan kelompok meyakini dan mempercayai bahwa agama dan politik merupakan satu kesatuan dalam ajaran dan doktrin Islam, sementara yang lainnya berpandangan bahwa Islam sebagai doktrin yang sakral di satu sisi, dan eksperimentasi sekular, termasuk politik, di sisi lain, mestilah tidak dicampur-adukkan dengan entitas dan ajaran sakral keagamaan agar agama, yang dalam hal ini Islam, tidak terkotori atau pun terkontaminasi dengan “politisasi” yang acapkali hanya membajak klaim-kalim keagamaan, namun pada kenyataannya seringkali bertolak-belakang dengan spirit atau raison d’etre Islam itu sendiri yang lintas sekat etnisitas, budaya, atau pun kebangsaan.

Pada kelompok pertama kita dapat memasukan tokoh-tokoh semisal Sayyid Qutub dan Hasan al Bana, sedangkan pada kelompok dan golongan yang kedua diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Amir Ali, Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Ahmad Khan, dan yang lainnya yang berada dalam garis wawasan yang sama.

Ragam Corak Tafsir Islam
Dalam kaitan itu, contohnya, Rasyid Ridha menekankan agar kita membedakan atau melakukan diferensiasi antara “hukum dan doktrin suci keagamaan” yang tak berubah dan abadi yang biasanya berkenaan dengan gugusan aturan “kesalehan pribadi” (mahdhah), dengan hukum dan ajaran yang mengatur bidang politik dan yuridis yang dapat berubah dan kontekstual, karena konsep kebajikan masyarakat dan keadilan sosial senantiasa berkembang menurut waktu dan senantiasa harus mengkontekstualisasikan dirinya dengan perkembangan inovasi dan pengetahuan manusia itu sendiri, yang dalam hal ini ummat Islam, yang sebelumnya tidak terpikirkan dikarenakan sejumlah masalah dan tuntutan baru yang biasanya dihadapi kaum muslim yang tak terhindarkan.

Dalam hal ini, sebagaimana gurunya, yaitu Muhammad Abduh, Rasyid Ridha menganjurkan kaum muslim untuk menerima pengetahuan dan institusi modern yang malah akan sangat bermanfaat bagi kaum muslim, ketimbang berusaha sekuat tenaga mempertahankan konsep dan institusi lama, tapi tidak memberikan manfaat dan kegunaan fungsional yang akan memberikan maslahat dalam bidang politik atau pun kehidupan keseharian ummat Islam itu sendiri.

Pandangan Rasyid Ridha itu, tentu saja, dapat ditelusuri kesamaan dan koherensinya dalam tulisan-tulisan dan pandangan gurunya, Muhammad Abduh, yang menganjurkan kaum muslim agar mampu mengasimilasikan dan menggunakan pengetahuan terbaik Barat yang tidak bertentangan dengan Islam. Anjuran Muhammad Abduh tersebut tak lepas dari pandangannya yang mempercayai bahwa agama sangat sejalan dengan akal dan pemikiran, dan karena itu tidak bertentangan dengan kemajuan atau pun modernisme dan pengetahuan Barat, contonya dalam hal pentingya kaum muslim menguasai dan mampu menciptaakan tekhnologi canggih, sebab pada suatu masa sebelum Islam mundur dan tersdesak dalam masa-masa penguasaan Barat, imperium Islam pernah melahirkan dan menghasilkan peradaban dan tekhnologi, yang dicontohkan dengan kegemilangan peradaban kaum muslim di masa Abbasid dan di kawasan Peninsula Iberica iu.

Muslim Rasionalis di India dan Indonesia Mutakhir
Masih dalam garis wawasan yang sama dengan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha itu, Sayyid Ahmad Khan di India menganjurkan kepada ummat Islam tentang pentingnya untuk melakukan interpretasi alias penafsiran rasional atas sejumlah dogma dan doktrin keagamaan. Dalam beberapa hal, anjuran rasionalisme Islam-nya Sayyid Ahmad Khan ini agak mirip dengan rasionalisme Kristen-nya Rudolph Bultmann. Seperti halnya Abduh dan Rasyid Ridha, Ahmad Khan juga tidak menolak adaptasi dan asimilasi antara Islam dan institusi Barat dan modern. Amir Ali juga dapat dimasukkan ke dalam golongan rasionalisme Islam ini, di mana ia mencontohkan bahwa perjuangan Nabi Muhammad itu sendiri merupakan contoh nyata dari figur seseorang yang sekuat tenaga dan pikiran memerangi kejumudan masyarakat ketika itu.

Sementara itu, untuk konteks Indonesia mutakhir, kita dapat memasukkan sejumlah tokoh yang bisa digolongkan sebagai para rasionalis muslim, semisal Nurcholis Madjid, Djohan Effendi, Abdurahman Wahid, Dawam Raharjo, Ahmad Wahib, dan yang lainnya yang akan cukup panjang bila diabsen satu persatu. Dalam beberapa point dan isu modern, buah pemikiran dan tulisan-tulisan para rasionalis muslim di Indonesia ini juga tak kalah genuine dan tak kalah orisinalnya dengan kaum rasionalis muslim di Mesir dan India tersebut, meski dalam beberapa hal lain acapkali merupakan repetisi dari buah pemikiran dan tulisan-tulisan para tokoh pemikir muslim lain yang mereka baca dan yang mereka rujuk. Entah tokoh-tokoh pendahulu mereka, semisal Afghani, Abduh, dan Rasyid Ridha itu, atau pun para pemikir muslim yang relatif sejaman, semisal Fazlur Rahman dan Mohammed Arkoun.

(Haram Imam Ridho as, Imam ke-8 dari 12 Imam Ahlulbait, di Iran)