Tags

, , , ,

Uma Thurman dan Liam Neeson dalam film Les Miserables

Sumber: Tabloid Ruang Rekonstruksi Edisi 3 September 2013

Setelah apa yang dilakukan Minah, dan apa yang kemudian menimpanya, setidak-tidaknya kita jadi sadar bahwa di Republik ini, tiga buah kakao memang lebih berharga ketimbang rasa keadilan yang telah lama cuma sekedar jadi slogan dan iklan. Kita pun jadi tahu, bahwa Republik ini lebih mirip sirkus badut yang para pemainnya adalah orang-orang berdasi yang rajin bicara konstitusi, di mana para hakim dan pak menteri serta para pemimpin dan aktor-aktor publik selalu saja lupa selepas nonton tivi. Tetapi setelah dipikir-pikir, mereka memang ingin juga menjadi selebriti, dan memang tak sanggup membedakan antara hukum dan gosip.

Dalam kasus Minah, juga Prita, yang tragis dan yang komedis saling berbaur, bertukar tempat satu sama lainnya. Secara politik, yang tragis tak lain adalah keadaan dan kekacauan hukum dan birokrasi itu sendiri, sementara secara individual adalah ketika komedi politik meminta korban dari seorang warga negara yang lemah dan tak berdaya di hadapan birokrasi. Tetapi dari kasus Minah dan Prita jugalah kita mengetahui bahwa di negeri ini hak-hak seorang warga negara akan kesamaan di hadapan hukum dan kebebasan dicederai oleh politik transaksi, sebuah fenomena di mana negara ternyata tidak berdaya menghadapi para mafia.

Mungkin bangsa ini terlampau mengabdi pada suksesi, yang lalu merasa berhutang budi kepada para agitator suara dan penyumbang dana politik, aktor-aktor yang kemudian meminta dan menagih balas jasa dari kekuasaan yang sebelumnya telah mereka bantu. Di sini pulalah ironi terbesarnya, mereka adalah juga para koruptor dan mafioso dari ragam predikat: politisi, birokrat, pejabat, eksekutif, jenderal, dan pengusaha. Merekalah memang yang selalu berada dalam siklus regulasi, distribusi, dan transaksi politik bangsa ini. Dan orang-orang seperti Minah atau pun Prita selalu menjadi warga negara yang diremehkan. Orang-orang itu lupa, bahwa justru karena keberadaan orang-orang seperti Minah dan Prita-lah ada sebuah negara. Mereka juga lupa, bahwa dengan semakin meremehkan orang-orang seperti Minah dan Prita, negara pun kehilangan harga diri dan martabatnya.

Bila saja kita menggugat ala gugatannya Vaclav Havel, tentu kita akan bertanya: apakah bangsa ini sudah kehilangan nurani untuk menghargai dirinya sendiri? Yang tentu juga kita tidak menginginkan pertanyaan tersebut hanya sekedar sebuah pertanyaan yang tak menemukan jawabannya. Terus terang saja saya hanya bisa tertawa dalam hati ketika para mafioso di negeri ini pandai sekali menggunakan dalih pencemaran nama baik ketika kejahatan mereka dibuka ke publik. Tidakkah mereka merasa bahwa secara moral mereka tak berhak menyandang nama baik bila dilihat dari kejahatan publik yang mereka lakukan? Bila kita katakan dengan keras, orang-orang seperti itulah yang sebenarnya tidak tahu diri. Lalu saya teringat Munir dan Romo Mangunwijaya sebagai dua intelektual publik yang menurut saya pantas diteladani dalam kiprah dan perjuangan mereka untuk membela orang-orang seperti Minah dan Prita.

Saya tiba-tiba teringat Letter to Dr. Gustav Husak-nya Vaclav Havel, bahwa ketakutan warga negara yang sama besarnya terhadap ancaman adalah juga kekhawatiran mereka akan hilangnya kepentingan dan kebutuhan yang akan menopang dan memungkinkan keberlangsungan kehidupan keseharian mereka. Apa yang dikatakan Havel itu menurut saya adalah juga apa yang dialami dan diderita Minah, si nenek yang lemah dan tak memiliki penghasilan yang layak itu. Bila mengutip bahasanya Havel sendiri, Minah dan Prita adalah korban dari orang-orang yang mengorbankan masa depan bangsa demi kepentingan-kepentingan kekuasaan hari ini.

Di berita tivi itu saya melihatnya tampak lemah dan menghela nafas-nya yang lambat ketika ia duduk di gubuknya. Saya pun tiba-tiba teringat film Les Miserables yang diadaptasi dari novel-nya Victor Hugo yang telah saya tonton, film yang dibintangi oleh Liam Neeson dan Uma Thurman, sebuah film yang bercerita tentang kemiskinan dan keterpaksaan, tentang sebuah kejahatan mencuri sepotong roti dalam situasi politik dan ekonomi yang tidak normal, krisis dan kemiskinan.

Sebuah film yang bercerita tentang ironi, ketegaran, dan kejujuran seorang walikota Le Meir untuk mengambil sikap bertanggungjawab. Sebuah film yang bercerita tentang seorang perempuan yang berjuang demi menghidupi anak tunggalnya dalam keterdesakan dan keterbatasan situasi keseharian. Mungkin para hakim yang memerankan diri mereka sebagai para mafioso itu perlu juga didongengkan Crime and Punishment-nya Dostoyevsky agar tak bersikap acuh dan dungu ketika mengetuk palu persidangan.

Saya jadi bertanya apakah para aktor publik di negeri lebih menganggap dirinya sebagaimana orang-orang yang dengan mudahnya melakukan tindakan-tindakan unilateral sebagaimana dalam film-film kolosal yang telah saya tonton di masa-masa remaja saya? Setelah direnungkan ternyata memang persis alias tak sedikit pun saya temukan perbedaannya dengan tokoh-tokoh antagonis yang digambarkan sebagai pemeras dan penindas rakyat di film-film itu. Jika memang demikian, negeri ini sendiri tidak jauh berbeda dengan gambaran jaman dan situasi seperti yang dilukiskan dan diceritakan dalam film-film yang telah saya maksudkan itu.

Demikianlah, menyikapi kasus Minah, juga Prita, yang sempat ramai itu, saya jadi tergoda untuk mengutip pemahaman Havel tentang politik sebagai kerja keras untuk mendukung kebahagiaan dan kepentingan umum, di mana politik bukanlah keharusan untuk menipu atau pun memperkosa hak-hak rakyat, politik juga dalam pemahaman Havel bukanlah semata-mata dimengerti sebagai seni tentang kemungkinan yang di dalamnya hanya tercakup agitasi dan sikap toleran yang pragmatis, tetapi juga untuk selalu memperjuangkan kemungkinan dari ketidakmungkinan. Politik dalam pandangan Havel memang tidak bisa dipisahkan dengan kehendak untuk bertanggungjawab itu sendiri, bila kita sependapat dengan komentar Jan Vladislav tentang esei-esei politik Vaclav Havel.

Ada yang menarik dalam pandangan-pandangan Havel yang memikat saya itu. Bahwa watak otoritarianisme atau pun rezim yang totaliter alias belum sepenuhnya memiliki birokrasi yang sehat biasanya penuh dengan orang-orang yang bersikap menipu dan yang tanggungjawabnya diragukan. Havel sendiri menyebut orang-orang tersebut sebagai para kolaborator alias orang-orang yang senantiasa menganggap pekerjaan kotor yang mereka lakukan disalahpahami sebagai upaya penyelamatan. Orang-orang seperti itu dalam pandangan Havel biasanya juga akan melakukan korupsi tanpa malu dalam situasi apa pun.

Sulaiman Djaya

Advertisements