Tags

,

oblivion-imax-poster-revised

Cyrano de Bergerac punya tujuh cara ke planet, hanya cara ketujuh yang berhasil: roket.

Kapan sebenarnya fiksi-sains dimulai? Sebagian penulis sejarah fiksi-sains merujuk pada Revolusi Industri yang mendorong inovasi teknologi di berbagai bidang sebagai batu pijakan awal lahir dan berkembangnya genre fiksi-sains. Sejarawan ekonomi Inggris Arnold Toynbee mematok revolusi itu terjadi sejak perkembangan pesat ekonomi Inggris pada 1760-1840.

Di dalam dan tak lama setelah Revolusi Industri itulah lahir dua karya fiksi yang dianggap pionir genre ini, yakni Frankenstein, or the Modern Prometheus (1818) karya Mary Shelley dan Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde (1886) Robert Louis Stevenson. Dan, di ujung abad ke-19 lahirlah karya-karya H. G. Wells, orang yang dianggap bapak fiksi-sains, seperti The War of the Worlds (1898) dan The Invisible Man (1897).

Namun, bila fantasi masa depan dipertimbangkan sebagai bagian dari fiksi-sains, maka sejarahnya bisa ditarik ke ribuan tahun sebelum Revolusi Industri terjadi.

Dalam konteks inilah mengapa Magic Dragon Multimedia (www.magicdragon.com) mematok pangkal sejarah fiksi-sains bahkan sejak kitab suci kuno dan legenda oral hadir dalam kebudayaan manusia.

Pada mulanya

Dalam kitab agama Yahudi, misalkan, dikisahkan tentang nabi Elijah yang mengendarai kereta berapi dengan kuda api ke langit. Kisah ini dianggap sebagai inspirasi awal pesawat terbang atau bahkan piring terbang (UFO), jenis pesawat yang rajin berkeliaran di buku-buku fiksi-sains masa kini.

Tentu saja, salah satu hal yang absen dalam legenda dan fiksi awal ini, yakni belum dipertimbangkannya teknologi secara khusus sebagai alat bantu manusia mewujudkan fantasinya. Menimbang perkembangan sains masa itu, wajar bila hal-hal itu belum terpikirkan sang pengarang. Bagaimanapun pengarang butuh inspirasi untuk memantik fantasinya. Maka, yang ada adalah kemungkinan-kemungkinan khayali.

Namun, penggunaan “teknik” untuk mewujudkan sesuatu pernah terbayangkan dalam mitologi kuno. Misalkan, dalam Ramayana dikisahkan bagaimana Rama dan pasukan keranya berhasil membangun sebuah jembatan antara India dan Sri Lanka, barangkali jembatan terpanjang yang pernah dibayangkan.

Contoh lainnya dalam mitologi Daedalus dan putranya, Icarus. Daedalus digambarkan sebagai pematung dan arsitek. Dialah yang membangun taman Labirin untuk Raja Minos dari Kreta. Namun, karena kehilangan kepercayaan dari Minos, dia dipenjara di sebuah pulau. Di sini dia menciptakan sayap dari bulu dan lilin untuk melarikan diri. Icarus yang terbang dengan sayap itu terlalu dekat ke matahari, sehingga lilinnya meleleh dan dia jatuh dan tenggelam di laut.

Namun, Lucian dari Samosata (hidup sekitar tahun 125), ahli retorika dan satiris Yunani kuno, menghidupkan kembali tokoh Icarus dalam Icaromenippos dengan mengangkat kisah bagaimana Icarus berhasil terbang sampai ke Bulan.

Di lain hal, Aristophanes (sekitar 450-388 SM), penulis komedi terbesar Yunani kuno, pernah membayangkan sebuah kota yang melayang dalam Ornithes. Meski dinilai sebagai satir politik, karya ini dianggap sebagai komedi fantasi orisinalnya. Di situ diceritakan bagaimana orang-orang yang bosan berperang kemudian mengajak para burung mendirikan sebuah kota baru antara langit dan bumi yang dinamai Nephelokokkygia, negeri di atas awan.

Langit terbuka

Selanjutnya, di masa Renaisans merebak di Eropa, ilmu pengetahuan dan teknologi mendapat lahan suburnya. Masa ini ditandai pertumbuhan perdagangan dan berbagai inovasi, seperti percetakan, kompas, dan bubuk mesiu, serta perjalanan ke berbagai belahan dunia. Petualangan dimulai dan fantasi makin berkembang, meninggalkan kisah-kisah para dewa di belakang.

Abad-abad selanjutnya merupakan masa penjelajahan akbar, gejolak agama, dan perkembangan ilmu. Christopher Columbus mulai menemukan jalur pelayaran dan benua baru. Kapal-kapal Ferdinand Magellan menjelajah permukaan bumi meski Magellan meninggal dalam misi itu dan hanya satu kapal yang kembali.

Dalam sejarah ilmu, yang perlu dicatat, di antaranya, Copernicus menerbitkan teorinya pada 1543 bahwa Bumi bukanlah pusat semesta, tapi Bumi dan planet lainnya justru mengitari matahari. Peta langit pun berubah sejak ini.

Konon pada 1500, seorang filsuf China, Wan Hu, merakit 47 roket dan beberapa layang-layang di sebuah kursi. Dia duduk di kursi itu, kemudian menyulut roket. Roket pun meledak, dan Wan Hu jadi martir astronot pertama di dunia.

Kisah ini barangkali hanya bualan. Namun, sejarah ilmu mengakui bahwa peradaban China–juga Arab–telah lama menggunakan serbuk mesiu yang digunakan sebagai bom dan roket dari bambu. Yang terpenting, pada masa inilah pengetahuan tentang mesiu dan roket mulai dikenal di Eropa sejak sejumlah penulisan tentang teknologi ini berdasarkan sumber-sumber China dan Arab.

Menginjak abad ke-17 dengan visi Galileo Galilei, manusia makin memahami bagaimana planet-planet beredar. Cincin Saturnus dan planet Jupiter ditemukan, selain mesin hitung, pompa air, dan kapal selam yang digerakkan manusia. Langit makin terbuka dan siap menyambut jejak manusia pertama.

Pada masa inilah di Paris hidup seorang sastrawan yang ahli satir, Cyrano de Bergerac. Pria brilian yang pemalu dan berhidung sangat besar ini mulai memadukan satir politik dan fantasi-sains dalam karyanya, suatu model awal dari fiksi-sains nantinya.

Karya terkenalnya, Perjalanan ke Bulan (Histoire comique des états et empires de la lune), terbit pada 1754 dengan mengangkat kisah perjalanan imajiner ke Bulan dan Matahari. Sebenarnya buku ini lebih ditujukan sebagai satir terhadap agama dan kepercayaan astronomis abad itu yang melihat dunia sebagai pusat segalanya.

Dalam karyanya Cyrano mengajukan tujuh cara untuk melakukan perjalanan antarplanet. Enam cara gagal, tapi cara ketujuh berhasil, yakni dengan roket. Dia secara tepat menggambarkan penggunaan parasut untuk kembali ke Bumi.

Buku lain yang terbit di masa ini dan dianggap sebagai tipe awal fiksi-sains adalah The Man in the Moone karya Francis Godwin. Dia membayangkan burung-burung menyeret sebuah rakit untuk sampai ke Bulan, yang tentu saja absurd. Namun, dia mampu membayangkan bahwa gravitasi Bulan lebih lemah dari Bumi.

Alien

Abad ke-18 adalah abad Revolusi Industri yang dipenuhi banyak penemuan, di antaranya mesin uap, kronometer, mesin tenun, balon, parasut, mobil uap, kapal uap eksperimental, dan kapal selam torpedo.

Di tengah keriuhan inilah beberapa karya yang dianggap sebagai tonggak awal fiksi-sains lahir. Di antaranya perjalanan luar angkasa Micromegas (1752) karya Voltaire, mahluk asing (alien) dalam Gulliver’s Travels (1726) karya Jonathan Swift. Namun, pada masanya, karya-karya ini lebih ditimbang sebagai satir sosial-politik ketimbang fiksi-sains yang berorientasi pada ilmu dan teknologi.

Karya awal terkenal yang mengangkat alien sebagai ancaman tentu saja The War of the Worlds (1898) karya Herbert George (HG) Wells. Wells menggambarkan bagaimana Bumi diserbu alien dari Mars yang memiliki senjata laser dan robot berkaki tiga.

Sejak itu, serangan mahluk asing menjadi tema yang sering muncul dalam fiksi-sains, bahkan juga dalam film. Di antara yang terkenal adalah novel berseri Worldwar karya Harry Turtledove di era 1990-an. Novel ini mengangkat kisah bagaimana alien jenis kadal menyerang bumi pada pertengahan Perang Dunia II.

Namun, pada Childhood’s End (1953) karya Arthur C. Clarke, alien tak melulu dipandang ancaman. Novel itu melukiskan alien bijak yang datang ke Bumi untuk mengubah anak manusia menjadi manusia super.

Piring terbang

Piring terbang juga menjadi salah satu khayalan favorit para penulis. Cerita awal tentang benda terbang berbentuk piring ini muncul sebagai serial Tom Swift sejak 1910-1990-an. Novel-novel awal kebanyakan dikarang Victor Appleton, nama samaran Howard Garis.

Namun, imajinasi tentang kendaraan antarplanet made in mahluk asing ini sebenarnya melanggar logika. Bentuk pesawat yang bundar-tipis seperti piring itu tak menunjukkan adanya sistem pendorong.

Bentuknya melingkar dan digambarkan bila hendak terbang benda ini berputar-putar. Namun, benda seperti ini melanggar hukum aksi-reaksi Newton. Tak tampak sistem kendali atau pengarah pada benda ini. Maka, astronot atau awak di dalamnya tak punya kekuatan apa-apa untuk keluar renggutan perputaran benda ini.

Pengarang tampak menggampangkan teknologi yang berakibat pada kemustahilan. Piring terbang kadang digambarkan bisa melayang di udara tanpa bantuan retro-roket, rotor seperti helikopter, atau menggunakan gas yang lebih ringan dari udara.

Jules Verne

Memasuki abad ke-19, sebagai dampak Revolusi Industri, sebagian pengarang menangkap teknologi sebagai ancaman. Sisi gelap teknologi ini diekspresikan Mary Shelley dalam Frankenstein dan Robert Louis Stevenson dalam Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde (sebagian sejarawan menilai karya ini diilhami pembunuhan berantai Jack the Ripper yang terjadi di London dan tak terpecahkan). Sedangkan kritik atas dominasi rasionalitas dalam sains ditampilkan Johann Wolfgang von Goethe dalam Faust.

Namun, pengarang terbesar fiksi-sains pada masa ini tak lain daripada Jules Verne (1828-1905). Dari tangan pengarang Prancis ini telah lahir puluhan novel dan cerita pendek. Di antara yang terkenal adalah Perjalanan ke Pusat Bumi (1864), Dari Bumi ke Bulan (1865), 20.000 League Di Bawah Laut (1869), dan Keliling Dunia dalam 80 Hari (1872).

Nama Verne dihormati di kalangan ilmuwan karena akurasi dan kemampuannya memprediksi teknologi masa depan, meski di sana-sini terdapat kelemahan dan keganjilan. Dalam Dari Bumi ke Bulan, misalkan, ia “meramalkan” peluncuran roket ke Bulan dengan kanon silinder berdiameter 9 kaki (sekitar 2,74 meter) dan tinggi 12 kaki (3,65 meter) yang terbuat dari alumunium. Bandingkan dengan Apollo CSM yang berdiameter 12,8 kaki dan tinggi 36,2 kaki dan terbuat dari alumunium.

Verne juga melukiskan awak pesawatnya ada tiga orang (sama dengan Apollo CSM), roket ditembakkan keluar orbit Bulan untuk masuk jalur-kembali ke Bumi (sama dengan sistem retro-roket Apollo), dan memprediksi adanya pengalaman tanpa gaya berat (gravitasi nol) antara Bumi dan Bulan.

Tapi, ada sedikit kekeliruan dalam perhitungan Verne. Verne meluncurkan kapsul berdiameter 9 kaki (sekitar 2,74 meter) dengan kanon setinggi 900 kaki (274 meter) yang berisi bahan peledak setinggi 200 kaki (61 meter).

Menurut perhitungan NASA (www.nasa.gov), berdasarkan data yang diberikan Verne, kecepatan luncuran kapsul yang dihasilkannya adalah 1.200 yard per detik (bukan 12 ribu yard per detik seperti hitungan Verne), atau hampir 4 ribu km per jam.

Dengan kecepatan sebesar itu, kapsul dan isinya akan melesat 12 mil (19,3 km) vertikal ke udara sebelum jatuh ke Bumi. Tidak hanya jatuhnya itu akan membunuh seluruh awak, tapi akselerasi kecepatan itu (dari nol ke 40 ribu km per jam untuk 0,21 km) akan melumatkan kapsul menjadi bubur.

Selain Verne, pengarang lain yang dinilai akurat dalam pelukisan fiksionalnya adalah Thea Von Harbou, pengarang Jerman yang sempat menjadi istri sutradara legendaris Fritz Lang. Thea menulis novel Gadis di Bulan (Die Frau im Monde, 1929) yang berkonsultasi dengan ilmuwan roket Jerman untuk keakuratan teknisnya.

Selain menggambarkan bagaimana mekanisme sirip pendorong bekerja, buku ini juga memprediksi kemunculan perempuan astronot, jauh sebelum Valentina Tereshkova, perempuan Rusia yang menjadi manusia pertama di angkasa luar dalam kapsul Vostok 6 pada 1963.

Terlihatlah, dengan segala kekeliruannya dan spekulasi yang tak terbukti, kisah-kisah fiksi-sains banyak mengilhami (dan memprediksi) perkembangan sains dan teknologi di masa depan.

Crichton

Sebagai penutup, saya akan angkat satu masalah lagi yang muncul di dunia fiksi-sains akhir-akhir ini. Pengarang-pengarang fiksi-sains mutakhir menghadapi tak hanya bagaimana menciptakan kisah-kisah baru yang menarik dan ramalan perkembangan sains yang menakjubkan, tapi juga kekritisan pembaca dan ilmuwan sendiri terhadap kebenaran kisah yang mereka paparkan. Meski, mereka juga menyadari bahwa kisah itu hanya fiksi belaka.

Kekritisan ini makin mengental dengan kecenderungan sejumlah pengarang untuk menyertakan catatan kaki berupa sumber-sumber ilmiah dalam buku fiksinya untuk memperkuat argumen yang dipaparkannya.

Salah satu pengarang fiksi-sains yang belakangan ini mendapat “teguran” keras dari kalangan ilmuwan adalah Michael Crichton, pengarang Amerika lulusan Harvard Medical School yang terkenal lewat novel Jurassic Park-nya.

Tangan dingin Crichton telah menghasilkan 14 novel dan lima karya nonfiksi. Tapi, yang dikritik para ilmuwan adalah karya terakhirnya, State of Fear (2004), yang mengangkat kisah histeria pemanasan global yang dipicu seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat yang sekaligus teroris ekologi.

Namun, di sela-sela argumen Crichton tentang pemanasan global ini, ada banyak lobang-lobang kelemahan yang ditunjukkan, misalnya, oleh Gavin Schmidt, ahli iklim di NASA Goddard Institute for Space Studies, dan penulis lepas Chris Mooney.

Schmidt, misalkan, menunjukkan kekeliruan Crichton ketika mengutip testimoni Jim Hansen di depan Kongres AS pada 1988. “Dr. Hansen sangat meyakini (pemanasan global) sekitar 300 persen,” tulis Crichton.

Menurut Schmidt, testimoni Hansen memang mendorong meningkatnya kesadaran atas isu pemanasan global, tapi Hansen tidak melebih-lebihkan masalah hingga 300 persen.

Dalam sebuah naskah yang diterbitkan segera setelah testimoninya, Hansen dan kawan-kawan menyajikan tiga model simulasi untuk skenario yang berbeda untuk perkembangan jejak gas dan pengaruh-pengaruh lain.

Skenario A secara eksponensial menaikkan kadar CO2, Skenario B dengan asumsi lebih sederhana, dan Skenario C tak lagi meningkatkan CO2 setelah tahun 2000. Baik Skenario B dan C mengasumsikan sebuah letusan vulkanik pada 1995.

Skenario yang berakhir mendekati pola perkembangan pengaruh riil adalah Skenario B, dengan perbedaan bahwa Gunung Pinatubo meletus pada 1991, bukan 1995. Perubahan suhu selama dekade di bawah skenario ini sangat dekat ke kenyataan yang 0,11 derajat Celcius seperti diperkirakan.

Namun, dalam testimoninya, Hansen hanya menunjukkan hasil-hasil dari Skenario B dan menekankan secara jelas bahwa itu adalah skenario yang paling mungkin. Klaim kesalahan “300 persen” itu datang dari catatan keraguan cuaca Patrick Michaels yang dalam tesimoni di Kongres pada 1998 menghapus dua kurva (skenario) lain dalam tabel perkiraan Hansen untuk memberi kesan bahwa model itu tidak layak.

KURNIAWAN. Sumber: http://www.ruangbaca.com/ruangbaca/16/ceritasampul6.htm

Advertisements