Tags

, , ,

Islamic Center of America

oleh Professor James Frankel

“Sejak masih kanak-kanak saya sering berpikir dan saya sering bertanya-tanya apakah maksud kehidupan ini. Pertanyaan-pertanyaan yang mendasar itu antara lain, mengapa kita berada di muka bumi ini, kemanakah kita akan pergi dan mengapa kita menderita?”

PADA MULANYA
Saya datang ke Hawaii dua tahun lalu, dulunya saya tinggal di New York dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Saya lahir pada tahun 1969 dan besar di Manhattan, sebagian waktu pula di Brooklyn untuk beberapa tahun. Sebagian besarnya, saya menjalani kehidupan keluarga yang bahagia. Kedua orang tua saya membesarkan saya tanpa agama tertentu, tetapi saya pikir mereka menetapkan satu paket dasar nilai-nilai moral. Bagaimanapun, warisan saya adalah dari latar-belakang Yahudi, tetapi saya dibesarkan dalam keluarga yang amat sekuler dimana tidak banyak amalan-amalan agama yang dipraktikkan.

Satu-satunya hubungan yang pernah saya alami dengan agama ialah dari sisi keluarga ayah saya. Nenek saya merupakan seorang yang mengamalkan ajaran Yahudi. Dari dia saya belajar beberapa hal, kisah-kisah dari Injil, kisah-kisah para nabi. Untuk jangka waktu yang singkat, ayah dan ibu saya berusaha mengantarkan saya ke sekolah Hebrew untuk belajar lebih banyak. Sayangnya saya tidak merasa enak di sana. Akhirnya saya disingkirkan keluar karena terlalu banyak mengemukakan pertanyaan. Mungkin itu adalah sifat saya yang telah membawa saya kepada saya hari ini. Sebagai seorang profesor dan sebagai seorang muslim, saya terus saja mengemukakan banyak pertanyaan.

Saya besar dengan cara demikian, banyak bertanya tentang segala dasar agama. Hal ini berlanjut sehingga melewati usia remaja saya. Ada dua pengalaman yang saya pikir bernilai untuk disebut. Pertama, ketika saya berusia 13 tahun, saya telah membaca Manifesto Komunis Karl Marx dan memutuskan untuk menjadi seorang komunis. Saya pikir nilai-nilainya masuk akal dan falsafahnya bermanfaat untuk semua orang.

Pada masa itu juga, saya pikir ini mungkin pembukaan paling awal saya terhadap Islam. Rekan terbaik saya ketika itu datang dari Pakistan. Saya belajar di sekolah internasional, makanya saya mempunyai teman-teman dari seluruh penjuru dunia. Teman Pakistan itu telah memberikan saya sebuah Al-Quran dan dia meminta saya untuk membacanya. Dia berkata, “Saya tidak ingin Anda pergi ke neraka.” Sayangnya ketika itu saya tidaklah terpikir tentang neraka. Dengan kata lain, dalam usia tersebut neraka belum terlintas di benak saya. Saya pun mengambil kitab itu dan meletakkannya di rak dan ia tinggal di situ selama bertahun-tahun tanpa dibuka.

Beberapa tahun kemudian, saya menjadi putus asa terhadap komunisme setelah mempelajari cara komunisme diamalkan di banyak negara. Saya lalu meninggalkannya. Sehinggah saya melangkah masuk ke universitas, saya mulai bertanya banyak pertanyaan yang membawa saya ke jalan yang benar. Sejak masih anak-anak saya sering berpikir dan saya sering bertanya-tanya apakah maksud kehidupan ini. Pertanyaan-pertanyaan yang mendasar itu antara lain, mengapa kita berada di muka bumi ini, kemanakah kita akan pergi dan mengapa kita menderita? Tetapi setelah semakin dewasa dan ketika saya masuk ke universitas, saya lebih menumpukan perhatian saya kepada pelajaran, hingga saya mengalami satu peristiwa.

Ketika itu saya tinggal di Washington DC. Saya mendapat panggilan telepon dari sepupu saya yang akan pergi ke sekolahnya di Maryland. Dia memberitahu saya bahwa nenek saya, bibi dan seorang lagi sepupu saya akan datang menemui saya dan mengajak saya makan malam. Saya masih belajar di universitas ketika itu. Petang itu saya menghabiskan masa dengan berbicara dengan nenek saya. Saya memberitahu kepadanya tentang rencana saya. Saya akan mulai belajar bahasa Cina. Sebelumnya saya berencana untuk pindah ke New York dan menyambung pelajaran di Universitas Columbia. Seolah-olah dia memberikan restunya kepada saya terhadap segala rencana saya.

Pada akhir pertemuan tersebut, saya sedang berjalan ke mobilnya yang diparkir di restoran tersebut. Dia berbalik dan jatuh. Saya bertanya kepadanya “Nenek, kau tidak apa-apa?” Dia meminta saya untuk tidak bimbang. Katanya, “Engkau tidak harus bimbang tentang dirimu sendiri.” Saya berpikir dan terus menemaninya hingga ke mobil. Saya membuka pintu, dia masuk dan saya memberikan ciuman selamat malam padanya. Saya berkata, “Agaknya kita akan bertemu kembali di acara syukuran saat saya pulang ke New York nanti.” Dia berkata, “Jika Tuhan mengizinkannya.” Pada masa itu saya tidak berpikir banyak. Saya tutup pintu dan merekapun pulang ke tujuannya.

KEMATIAN NENEK
Sepupu saya membawa saya pulang ke asrama saya dan saya pun tidur. Keesokkan paginya saya mendapat panggilan telepon dari sepupu saya. Saya bertanya mengapa dia menelepon begitu awal dan dia tidak dapat berkata apa selain, “nenek telah meninggal”. Saya pula bertanya kembali: “Benar?” Saya pikir itu hanya gurauan saja. Saya bertanya lagi, “Apa yang kau sebutkan?” Dan dia menjelaskan bahwa nenek di serang sakit jantung dalam tidurnya. Kata-kata nenek masih kedengaran dalam telinga saya. Saya mengatakan bahwa saya akan bertemu dengannya dan dia berkata dengan izin-Nya. Dan ketika saya bertanya kepadanya dia meminta saya harus menjaga diri saya sendiri. Hingga hari ini, itu merupakan kunjungan mengejutkan darinya dan kepergiannya juga mengejutkan. Sehingga hari ini saya hanya berpikir apakah maksud dari pertemuan dengan nenek saya itu.

Saya kembali ke New York untuk mengikuti upacara pengebumian (pemakaman) nenek. Itu merupakan acara tradisional Yahudi dan sang Rabbi yang melakukan pidato berbicara mengenai nenek saya dan berkata, “Sarah merupakan harta yang langka dan Tuhan telah mengambil kembali hartanya.” Saya pikir ia tidak menjadi masalah untuk sang Rabbi berkata demikian. Ketika sang Rabbi datang berkunjung ke rumah kakek saya untuk berziarah, saya ingin mengemukakan beberapa pertanyaan kepadanya. Saya ingin tahu beberapa amalan yang dipraktikkan di rumah orang Yahudi pada saat seseorang menemui kematiannya. Dia memberitahu saya untuk tidak bimbang tentang perkara itu. Dia berkata itu hanyalah sekadar tradisi saja. Saya mengatakan bagaimana tentang hal ini, dalam pidato Anda, Anda mengatakan bahwa nenek saya, saya tidak tahu sejauh mana Anda mengenalinya, tetapi Anda mengatakan bahwa dia telah diambil oleh Tuhan, jadi kemanakah dia? Dan untuk hal tersebut, kemana saya akan pergi? Kemana Anda akan pergi? Dan mengapa kita di sini. Dan segala persoalan yang terbetik dalam hati manusia.

Saya masih ingat, sang Rabbi, melihat jam tangannya dan berkata, “Saya harus pergi.” Saya tidak berpikir bagaimana dia melihat saya marah ketika itu. Saya kira dia juga tidak menyadari bahwa dialah yang menyebabkan saya menjadi saya hari ini karena saya menjadi semakin memiliki minat dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

MENCARI KEBENARAN
Pada mulanya saya berpikir akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai penghormatan kepada nenek saya. Saya akan mencari komunitas Yahudi dimana saya akan berusaha untuk mendapatkan jawabannya. Pada waktu itu saya berusia 18 atau 19 tahun. Sayangnya komunitas yang saya temui tidak memberikan kepuasan kepada saya. Saya mengajukan banyak sekali pertanyaan yang menghinggapi benak saya ketika saya masih kecil dan saya hanya diberitahu bahwa Tuhan hanyalah Tuhan orang Yahudi! Hanya ada 20 juta Yahudi di dunia ini, dan terdapat berjuta-juta orang lain, dan sudah tentu Tuhan mencipta mereka juga?

Saya mulai belajar sendiri. Saya membaca Injil dan pada musim panas itu saya berada di Inggris. Saya magang di sana, terdapat Kristen Evangelis yang mendatangi saya dan ingin bersosialisasi. Mereka ingin saya menerima ajaran mereka. Saya pikir boleh juga, mengapa saya tidak mencoba Kristen?

Membaca Injil menimbulkan rasa kecintaan dan kehormatan kepada Nabi Isa as. Tetapi mereka ingin saya membuat loncatan yang lebih, menerima Nabi Isa sebagai tuan dan penyelamat saya, dan itulah yang tidak dapat saya lakukan. Bagi saya Nabi Isa hanyalah seperti seorang kakak atau seperti seorang guru. Nabi Isa bagi saya adalah seorang Yahudi dan saya tidak dapat menerima klaim-klaim yang mereka buat berkaitan dirinya. Tetapi saya mengatakan bahwa tumbuh rasa suka saya terhadapnya. Saya kira saya tidak akan mendapatkan jawaban dalam Kristen.

Saya belajar banyak hal lain seorang diri. Saya belajar filsafat Timur seperti Buddhisme. Saya juga belajar filsafat Barat khususnya Yunani, Roma dan filsafat sejarah. Sayangnya tidak ada yang dapat memberikan jawaban mendalam kepada persoalan saya. Satu hari saya berada kembali di New York sebelum saya memulai semester baru. Kebetulan saya berada di Times Square, hari itu berlainan dari biasanya….Begitu banyak sekali penceramah agama berada di sana. Saya memang gemar berbicara dengan orang lain tentang agama, seringnya dengan sikap skeptis.

Saya masih ingat saya berbincang dengan seorang pria Yahudi tentang Nabi Isa. Dia memberitahu saya apa yang dia percayai dan bahwa dia pernah mendengarkannya dan baginya Nabi Isa merupakan Kristen. Dia bertanya kepada saya apakah saya menyetujuinya dan saya katakan, “Maaf saya tidak percaya dengan apa yang Anda percayai.” Dia berkata, “Anda percaya dengan Tuhan, tidakkah begitu?” Saya berkata, “Begitulah kira-kira.” Dia kembali berkata, “Maka, marilah berdoa dengan saya, berdoa terus pada Tuhan.” Dia meletakkan tangannya ke bahu saya, menutup mata dan mulai berbicara dengan nama Bapak di Surga.

Dengan matanya yang tertutup, saya mulai melihat sekitar saya dan saya melihat di satu sudut terdapat lelaki-lelaki dengan jenggot hitam yang panjang dengan jubah serta bersorban putih. Mereka kelihatannya orang-orang Afrika atau Afro-Amerika. Mereka kelihatan seolah-olah telah melangkah keluar dari halaman-halaman Injil. Mereka kelihatan seperti Nabi Nuh atau Nabi Ibrahim atau sepertinya. Saya tahu kita tidak harus menilai seseorang dari wajah penampilannya, tetapi kenapa tidak? Apa salahnya saya bercakap dengan mereka.

Setelah orang tadi selesai membaca doanya, saya pergi menemui mereka dan bertanya apakah yang mereka sampaikan. Mereka mengatakan mungkin saya tidak berminat dengan apa yang mereka sampaikan.

Saya bertanya, “Mengapa tidak?”

Mereka berkata,”Karena Anda Setan.”

Saya bertanya kembali, “Benarkah! Adakah saya Setan?”

Dan mereka berkata, “Semua kulit putih adalah Setan.”

Saya menjawab, “Jika saya Setan, izinkan saya bertanya satu pertanyaan. Jika saya Setan, mengapa saya ingin tahu tentang Tuhan?”

Mereka menjelaskan bahwa Setan juga mempercayai Tuhan. Saya tanyakan kepada mereka dari mana mereka mendapatkan pengetahuan ini, saya sebenarnya juga tahu, saya pernah membaca artikel di universitas berkaitan Malcolm X dan The Nation of Islam, maka saya paham mungkin mereka ini ada hubungannya dengan gerakan nasional kulit hitam. Saya bertanya kepada mereka berkaitan dari manakah sumber klaim mereka tentang tabiat Setan saya dan mereka memetik ayat-ayat dari Injil, Kitab Daniel, dan saya katakan, “Tidak, tidak, tidak. Jika saya inginkan Injil saya bisa saja turun ke jalan dan mendapatkannya dari Yahudi untuk Nabi Isa atau dari sebagian Kristen lain. Apakah kitab Anda? Tidakkah anda membaca Al-Quran? Mereka katakan, “Iya dan mereka memberikan saya ayat-ayat dari surat Al-Kahfi dan saya membawanya pulang.

MEMBACA AL-QURAN
Saya membawa pulang kertas yang tertera ayat-ayat tersebut. Saya langsung saja ke rak buku saya di mana saya dulu menyimpan Al-Quran yang diberikan oleh teman saya, Mansou,r enam tahun lalu. Saya mulai membacanya, saya melihat ke halaman yang mereka arahkan kepada saya dan sudah tentu saya membacanya. Tidak adapun indikasi yang menyebutkan saya Setan atau orang kulit putih itu Setan. Oleh karena saya telah mulai membacanya, saya pun langsung melanjutkannya. Saya membaca dan terus membaca sehingga saya tertidur dengan kitab terbuka di tangan saya. Hari keesokkannya, saya terus membacanya semula setiap kali saya punya waktu lapang.

Al-Quran menyentuh hati saya sedemikian sekali tidak seperti buku-buku lain, tidak juga seperti Injil karena kelangsungan Al-Quran dan oleh karena ia merupakan firman Ilahi, di mana Tuhan sendiri berbicara langsung dengan Anda, begitu terus terang dan baik sekali. Ia menyentuh hati saya sedemikian rupa yang tidak pernah saya rasakan sebelum ini. Saya tidak dapat memberitahu Anda kapan dan di mana secara tepat. Saya tahu adakalanya ketika saya membacanya, air mata mengalir turun di wajah saya. Adakalanya ketika membacanya, bulu lengan saya akan tegak berdiri dan di belakang leher saya. Saya tidak dapat menunjukkan dengan tepat di mana atau ketika apa, tetapi di sebagian titik saya menyadarinya bahwa saya sedang membaca firman Ilahi.

Pada tahun 1990 bulan Januari, saya keluar bersama dengan beberapa orang teman semasa sekolah tinggi. Kami sedang minum kopi dan berbicara tentang kehidupan kami. Mereka bertanya dengan saya, “Apakah kepercayaan Anda hari ini?!” Karena mereka mengenali saya saat saya berpegang kepada komunis dan ketika saya melewati berbagai fase kehidupan, mereka tahu bahwa saya adalah seorang tidak begitu percaya kepada sesuatu. Makanya mereka bertanya kepada saya dan saya berkata, “Saya percaya pada Tuhan”.

Mereka berkata, “Benar, Tuhan apa?”

Saya berkata, “Hanya ada Satu Tuhan.”

Mereka berkata, “Dari mana Anda mendapatkannya.”

Saya menjawab, “Saya mendapatkannya dari Al-Quran.”

Salah seorang dari mereka adalah Muslim, dan berkata, “Anda telah membaca Al-Quran, maka Anda sudah pasti mempercayai bahwa ia merupakan firman Tuhan dan bahwa Muhammad itu rasul Tuhan.”

Saya berkata, “Begitulah.”

Dia berkata, “Baiklah, benarkah saya memahaminya? Anda percaya bahwa hanya ada Tuhan yang Esa dan Muhammad itu Rasul-Nya?

Saya berkata, “Jika begitu yang Anda tetapkan, ya saya meyakininya.”

Dia berkata,”Maka anda adalah seorang Muslim.”

Saya tertawa dan berkata, “Saya seorang Muslim? Anda seorang Muslim. Anda berasal dari Pakistan. Saya hanyalah seorang pria yang mempercayai Tuhan.”

Dia berkata, “Tidak demikian, Anda adalah seorang Muslim. Anda percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan-Nya. Anda adalah seorang Muslim.

SEORANG MUSLIM TERBATAS
Selama beberapa hari kemudian, saya terpaksa memikirkan apa maksudnya dan saya menghubungi Mansour. Dialah yang memberikan saya Al-Quran ketika saya berusia 13 tahun. Dia berada di Universitas Pennsylvania dan bekerja dengan Asosiasi Pelajar Muslim. Saya meminta dia mengirmkan saya buku-buku berkaitan Islam yang bisa mengenalkan saya dengan Islam dan persyaratan kehidupan sebagai Muslim. Dia mengirimkan satu atau dua buku, dan satunya khusus (Islam in Focus) memberikan pengenalan yang baik tentang Islam. Bukan sekadar kepercayaan Islam tetapi juga lima pilar agama Islam. Saya belajar untuk menunaikan shalat, bagaimana menyebut syahadah, dan bagaimana mengambil wudu dari buku tersebut.

Saya mula melakukan shalat. Saya kira Anda tidak bisa mengatakan bahwa saya seorang Muslim Terbatas, karena saya tinggal bersama kedua orang tua saya pada masa itu. Saya menutup pintu waktu menunaikan shalat. Malah ketika pertama kali melakukan puasa di bulan Ramadhan, saya melakukannya sendirian. Saya tidak punya teman. Saya belajar sendiri kapan matahari akan naik dan kapan matahari akan terbenam dan makan ketika waktu membenarkan. Untuk enam atau delapan bulan pertama saya menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim yang baru sendirian, yang membimbing saya adalah Al-Quran dan buku-buku Islam. Itulah kisah bagaimana saya memeluk Islam.

Sampai pada satu tahap, saya perlu memberitahu keluarga saya dan hal itu seperti keluar dari lemari. Pada satu malam, saya memberitahu keluarga saya bahwa saya telah membaca Al-Quran, dan mereka berkata, “Iya, kami melihat kau membawanya kemana-mana.” Saya mengatakan bahwa saya mempercayainya dan selain itu terdapat amalan yang harus dipraktikkan dan saya memilih untuk mematuhinya. Saya mengucapkan itu dengan maksud saya telah menjadi seorang Muslim.

REAKSI KELUARGA
Reaksi ibu saya sungguh kuat sekali. Dia menangis dan memandang ayah saya seolah-olahnya bertanya, “Apa salah kita? Mengapa hal ini bisa terjadi?” Sementara ayah saya tampaknya lebih santai dalam menanganinya. Dia mungkin berpikir sendiri, “Anak saya adalah seorang komunis ketika berusia 13 tahun. Dia menjadi pengikut Skinhead ketika berusia 16 tahun. Dia melewati berbagai fase dalam kehidupannya, mungkin ini juga hanya merupakan sebuah fase.”

Saya kira kedua orang tua saya sedang melakukan sesuatu. Maksud saya, ini adalah sebuah fase, tetapi ia bukan hanya melewati fase, begitulah yang saya pikir dan harapkan. Ibu saya mungkin menyadari bahwa saya sebenarnya serius dan tentunya reaksi dia adalah seorang yang takut dan menyesal. Bagi saya perkara ini dapat dipahami dan hanya mendapatkan persepsi yang menyimpang berdasarkan kepada misinformasi dan informasi yang terbatas. Maka tahun-tahun pertama itu menjadi tantangan besar bagi saya.

Saya berusaha untuk berkomunikasi dengan kedua orang tua saya. Alhamdulillah, mereka dapat memahami saya dan sabar dalam hal ini. Pada mulanya memang ibu saya merasa bimbang. Dia takut saya berubah menjadi monster. Saya berusaha untuk membuktikan kepadanya bahwa setelah memeluk agama Islam, saya menjadi pelajar yang lebih baik dan anak yang lebih baik. Saya bukanlah seorang yang nakal sebelum Islam.

Mungkin bagi sebagian orang yang memilih jalan ini, perlu bagi mereka untuk memperbaiki diri mereka. Dalam hal saya, saya berterima kasih kepada kedua orang tua saya yang telah memberikan saya nilai-nilai yang saya kenali ketika memeluk Islam. Seperti yang saya katakan saya bukanlah seorang yang nakal. Insya Allah. Islam telah menjadikan saya orang yang lebih baik. Setiap orang punya jalan mereka sendiri. Bagaimana mereka sampai ke sana dan malah ketika mereka memeluk Islam setiap orang punya cara yang berbeda dalam memahami jalan ini. Bagi saya, ia banyak berkaitan dengan pembelajaran dan pengetahuan. Tujuan hidup yang utama dalam kehidupan dan Islam ialah untuk memperoleh pengetahuan: pengetahuan tentang diri kita, tentang dunia kita, tentang alam raya, dan pengetahuan hubungan intim kita dengan Allah.

Ini telah mendorong saya dalam karir saya. Saya tidak tahu bahwa satu hari nanti saya akan menjadi seorang profesor. Saya tak hendak mengatakan bahwa setiap orang mesti menjadi profesor. Tetapi bagi saya ia merupakan satu perjalanan pembelajaran dan pengajaran yang panjang. Di perjalanan tersebut, saya memperolehi kehormatan dan apresiasi dari agama lain juga yang dulunya saya tidak terpikir ia bisa dicapai jika saya tidak memeluk Islam.

Bagi mereka yang baru memeluk Islam, haruslah mengetahui bahwa jika seseorang itu menjadi seorang Muslim, seseorang tidak perlu menjadi orang lain. Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa orang membawa apa yang mereka miliki dulu ke dalam Islam, malah di kalangan sahabatnya, terdapat orang-orang yang mempunyai bakat atau tantangan, mereka inilah yang meneruskan kerja setelah mereka memasuki jalan ini. Demikian juga dengan diri saya. Terdapat begitu banyak tantangan dan kehidupan saya terus mengandung masalah. Semua ini memerlukan kesabaran.

Bagi saya, perjalanan ini memakan waktu hampir 20 tahun dan hanya Allah yang mengetahui bagaimana dan di mana ia berakhir. Nasihat saya kepada Muslim baru (muallaf) atau mungkin mereka yang telah menganut Islam haruslah bersabar dan lihatlah apa yang akan dikaruniakan Allah kepada Anda, bukan dengan takut tetapi dengan cinta dan harapan.

Jika ada non Muslim yang mengikuti kisah saya hari ini, Anda berutang pada diri Anda untuk mengetahui sebanyak mungkin berkaitan hal-hal yang terjadi di sekitar Anda. Islam memang wujud di dunia ini. Ia hampir tidak dapat dielakkan dalam berita dan di dunia ini. Dan seandainya Anda tidak mengenali seorang Muslim, Anda akan tetap tiba di poin-poin tertentu. Saya pikir kita harus saling mengenal. Jika Anda ingin tahu, begitu banyak sumber di luar sana. Jika Anda berada di Hawaii, kontaklah saya. Saya berada di Universitas Hawaii Departmen Agama. Jika saya bisa membantu Anda, saya akan membantu. Demikian juga mereka yang berasal dari keluarga Muslim, kita bisa saja menambahkan pengetahuan kita dan saling kasih mengasihani.

Advertisements