Tags

, , , , ,

Francois Mauriac

oleh Petri Liukkonen

“Saya percaya bahwa hanya puisi yang penting, dan bahwa hanya melalui unsur-unsur puitis yang terdapat di dalam sebuah karya seni dari genre apa pun yang bekerja dalam karya itu, yang layak untuk dipertahankan. Seorang novelis besar pada awalnya adalah seorang penyair besar” (Francois Mauriac, Novelis dan Dramawan)

François Mauriac lahir di Bordeaux, sebagai putra bungsu dari Jean-Paul Mauriac, seorang pengusaha kaya. Ketika Mauriac belum genap berumur dua tahun, ayahnya meninggal, dan keluarga itu tinggal bersama kakek nenek mereka. Ibunya adalah seorang Katolik yang taat, yang dipengaruhi oleh pemikiran teologi Jansen (Jansenisme adalah gerakan teologis Katolik, terutama di Perancis, yang menekankan dosa asal, kejatuhan manusia, perlunya anugerah ilahi, dan predestinasi).

Sejak usia tujuh tahun, Mauriac belajar di sekolah yang dikelola oleh ordo Marianite (sebuah konggegrasi kesusteran Katolik di Perancis – Red.). Penulis itu tidak pernah berhenti menyatakan pentingnya pendidikan usia dini meskipun ia tidak senang bersekolah di Ste Marie.

Setelah menyelesaikan studi di University of Bordeaux, Mauriac menerima lisensinya (setara dengan MA) pada tahun 1905. Tahun berikutnya, ia pergi ke Paris, bersiap untuk memasuki École des Chartes (sebuah sekolah besar di Perancis yang mengkhususkan diri dalam ilmu sejarah), di mana ia diterima pada tahun 1908. Namun, Mauriac berada di sekolah itu hanya beberapa bulan dan kemudian memutuskan untuk mengabdikan diri sepenuhnya di bidang sastra.

Karya-karya Mauriac menunjukkan pengaruh dari beberapa penulis. Meskipun ia menerbitkan studi tentang Racine dan Marcel Proust, Pascal mungkin adalah pemikir yang paling penting baginya. Gaya Mauriac adalah puitis, penuh kesan yang halus. Ia berkata, “Saya percaya bahwa hanya puisi yang penting, dan bahwa hanya melalui unsur-unsur puitis yang terdapat di dalam sebuah karya seni dari genre apa pun yang bekerja dalam karya itu, yang layak untuk dipertahankan. Seorang novelis besar pada awalnya adalah seorang penyair besar.”

Mauriac memulai karier sastra sebagai penyair bersama dengan Les Mains jointes (1909). Banyak novelnya yang terhubung pada syairnya. Namun, prosa Mauriac-lah yang selalu menarik perhatian lebih baik dari para kritikus dan juga masyarakat yang membaca. Ia pernah mengatakan bahwa Orages (1925) dan Le Sang d’Atys (1941) membentuk gletser dari mana semua novelnya mengalir. (Mauriac: Puisi dari Novelis oleh Paul Cooke, 2003, hal 246.)

Sandiwara Mauriac tidak pernah dapat menyamai kesuksesan novelnya, tetapi Asmodé ditampilkan 100 kali selama tahun 1937 — 1938 di Comédie Française.

Pada tahun 1913, Mauriac menikah dengan Jeanne Lafon; anak pertama mereka, Claude, menjadi seorang novelis juga. Selama Perang Dunia I, Mauriac bertugas di Balkan sebagai perawat rumah sakit Palang Merah. Setelah perang, ia menulis dua novel, tetapi dalam Le Baiser au Lépreux (The Kiss to the Leper – Ciuman untuk Penderita Kusta, tahun 1922) itulah ia menemukan suara hatinya sendiri. Kisah tragis itu adalah tentang seorang pemuda kaya, tetapi berwajah buruk menyeramkan, yang hancur karena dijodohkan dengan gadis petani yang cantik.

Novel Mauriac berikutnya berisi tentang jiwa-jiwa yang tersiksa, yang semakin dipandang dengan rasa tidak suka oleh golongan sayap kanan Katolik, bahkan oleh pers Katolik yang umumnya memberi label kepada penulis ini sebagai seorang yang murtad, yang terobsesi dengan karakter yang hina. Le Désert de l’amour (1925) melanjutkan tema Mauriac tentang kesia-siaan cinta. Novel tersebut mengisahkan seorang janda muda yang dingin secara seksual, yang menimbulkan gairah pada dokternya dan juga putranya.

Thérèse Desqueyroux (1927), yang ditulis berdasarkan kisah nyata sidang pembunuhan atas Madame Henriette-Blance Canaby, diakui sebagai salah satu novel Perancis terbaik. Wanita itu dituduh mencoba meracuni suaminya, tetapi suaminya menolak untuk bersaksi melawan istrinya. Dalam cerita itu, seorang istri muda, Thérèse, terdorong untuk membunuh suaminya, seorang tuan tanah yang kasar. Karya ini dipengaruhi oleh beberapa tema utama yang terdapat dalam seluruh fiksi Mauriac: kehidupan penindasan di daerah pedalaman Perancis, tekanan seksual, dosa asal, dan penebusan. Keindahan liar pedesaan di selatan Bordeaux memberikan latar belakang yang bertentangan dengan tokoh-tokoh yang digambarkan Mauriac.

Terpesona oleh nasib Thérèse, Mauriac melanjutkan menulis dua cerita pendek dan satu novel lagi tentang perempuan itu.

Karya awal Mauriac menggambarkan pergumulan nafsu dan hati nurani, tetapi seusai krisis spiritual, ia menyelesaikan konflik ini dengan kemurahan hati: “Kekristenan tidak mendukung kedagingan. Kekristenan menekan hal itu”. Sebagai buntut dari krisis agamanya, Mauriac menulis novel yang menekankan kekuatan kasih Allah, dan mengembangkan teknik, di mana suara penulis, seorang pengamat — yang bersifat seperti Tuhan — mengungkapkan pendapatnya sendiri.

Satu pengecualian adalah Le Nœaud De Vipères (1932, Viper’s Tangle — Jeratan Ular Beludak), sebuah drama keluarga, salah satu novel terbesar Mauriac. Ditulis dalam bentuk rangkaian huruf dan diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, mengisahkan tentang seorang pria tua bernama Louis, seorang ateis dan misanthrophic, yang karena bertekad untuk menyembunyikan uang dari istri dan anak-anaknya sehingga mengawali suatu perlawanan terhadap dirinya. Sekali lagi, materialisme menciptakan kendala bagi pertumbuhan rohani. Kematian istrinya membuat Louis menyelidiki jiwanya.

Mauriac terpilih pada tahun 1933 pada sebuah jabatan di Académie Française, tetapi agaknya bertentangan dengan suasana hatinya yang konservatif setelah mengadopsi pandangan yang lebih liberal. Seiring dengan pemikiran politiknya yang berkembang, ia mulai berkontribusi dalam surat kabar Perancis Le Figaro, di mana ia sering menyerang munculnya Fasisme (paham politik yang mengutamakan atau meninggikan kekuasaan yang absolut tanpa mengutamakan prinsip demokrasi, yang muncul selama masa Perang Dunia Kedua).

Selama Perang Saudara Spanyol, ia berkampanye secara aktif untuk Partai Republik meskipun pada awalnya ia mendukung tindakan Franco (pemimpin de facto Spanyol dari tahun 1939 hingga tahun 1975). Ketika Para Jenderal Franco menyatakan bahwa mereka memimpin perang suci, yang dengan begitu menghubungkan kekristenan dan fasisme, Mauriac menyatakan kemarahannya dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada tanggal 30 Juni 1938.

Dia juga menarik pujiannya untuk Mussolini dari sebuah artikel yang diterbitkan ulang pada tahun 1937.

Pada awal pendudukan Jerman di Perancis dalam Perang Dunia II, Mauriac pada awalnya mendukung Pétain, tetapi kemudian bergabung dengan pihak de Gaulle. Setelah menulis dengan nama samaran Forez yang mengajukan protes terhadap tirani Jerman, ia terpaksa menyembunyikan diri dengan keluarganya selama beberapa waktu. Karya ini, Le Cahier Noir (1943), diterbitkan oleh Les Editions de Minuit dan kemudian diselundupkan ke London, di mana ini digunakan sebagai alat propaganda. La Pharisienne, yang terbit pada tahun 1941, dibaca sebagai alegori menyerahnya Perancis ke Nazi Jerman.

Yang perlu diperhatikan adalah fakta bahwa Mauriac merupakan satu-satunya anggota dari Académie Française yang bergabung dengan gerakan perlawanan seperti Front Nasional dan Comité Nationale des Ecrivains. (François Mauriac: The Making of an Intellectual oleh Edward Welch, 2006, hal 56.)

Mauriac adalah pendukung de Gaulle dan kebijakannya di Maroko, tetapi mengutuk praktik penyiksaan oleh tentara Perancis di Aljazair. Sebagai akibat dari simpatinya terhadap rezim Gaullist, Mauriac kehilangan perannya sebagai seorang analis politik dan suara berpikir bebas, terutama dari sudut pandang kubu sebelah kiri. Jean-Paul Sartre adalah salah satu penulis yang mengungkapkan kekecewaannya tentang kesetiaan antusias Mauriac kepada Presiden.

Dari pertengahan 1950-an, Mauriac menulis sebuah kolom surat kabar mingguan, Bloc-Notes, yang menjangkau khalayak orang banyak. Dia juga menerbitkan serangkaian memoar pribadi dan biografi de Gaulle, yang mewujudkan visinya sendiri tentang Perancis.

Pada tahun 1955, Mauriac bertemu dengan penulis muda Elie Wiesel, yang selamat dari Auschwitz dan Buchenwald, dan mendorongnya untuk menulis memoar Yiddishnya: “Kamu salah tidak berbicara….Dengarkan orang tua seperti saya: seseorang harus berbicara. Seseorang juga harus berbicara.” Sebagian besar fokus Mauriac dalam tulisan-tulisannya nanti adalah tentang kehancuran dan mekanisasi dunia di sekelilingnya. Mauriac meninggal pada tanggal 1 September 1970, di Paris. (Penerjemah: Jing-Jing)

Advertisements