Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Gadis Bali karya Agus Djaya

(Lukisan Gadis Bali karya Agus Djaya)

oleh Roso Daras

Lahir di Pandeglang, Banten, Raden Agus Djaya adalah seorang seniman nasionalis yang berjiwa patriot, dan Bung Karno berkata, “Seni-sejati membawa individualitet (kepribadian) penciptanya. Seni Agus Djaya adalah Seni – Agus Djaya. Saya merasa bangga, bahwa seniman-seniman Indonesia dengan aneka warna kepribadiannya menunjukkan kekayaan daya cipta, laksana harmoni karangan bunga yang aneka warna”.

Itu adalah komentar Bung Karno terhadap pelukis Agus Djaya. Siapakah Agus Djaya? Dia sejatinya adalah ikon penting dalam sejarah dunia seni lukis Indonesia. Pria kelahiran Pandeglang (Banten) 1 April 1913 ini adalah pendiri Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia), dan mengetuainya selama empat tahun (1938 – 1942).

Bukan hanya itu, pria bernama lengkap Agus Djaya Suminta ini juga pendiri Akademi Seni Lukis yang pertama di Indonesia. Pendek kata, tidak sah menulis sejarah seni rupa Indonesia tanpa menyebut nama Agus Djaya. Terlebih, kontribusinya tidak hanya di bidang seni, tetapi juga berperan aktif dalam putaran sejarah kemerdekaan Republik ini. Bahkan terakhir ia menyandang pangkat kolonel untuk bidang tugas intelijen. Tidak main-main!

Persinggungannya dengan Bung Karno? Ah, jangan ditanya! Bukankah Bung Karno juga seorang pelukis? Bahkan ia pernah berujar, seandainya garis nasib tidak membawanya ke kursi kepresidenan maka ia akan memilih jalan hidup sebagai pelukis? Karenanya, keduanya tentu saja bersahabat kental. Sekental persahabatan Bung Karno dengan pelukis-pelukis lain. Sebut saja Basuki Abdullah, Doelah, Heng Ngantunk, ahhh…Anda sebut sajalah pelukis besar Indonesia lainnya.

Kita batasi dulu kisah ini pada sosok Agus Djaya. Ia adalah satu di antara sekian pejuang yang mendapat tugas “psy war” sekaligus “diplomasi budaya” di Belanda. Di sana, ia sempatkan diri untuk memperdalam keahlian melukis dengan cara kuliah di RIjks Academie Boeldende Kunsten di Amsterdam (1947-1949). Selain itu, Agus Djaya juga mengikuti kuliah jurnalistik di Universiteit Amsterdam.

Selama di Eropa, Agus Djaya sempat berkenalan dengan pelukis-pelukis besar Eropa seperti Pablo Picasso di Vallauris, Perancis Selatan. Juga bersahabat dengan perupa dunia Salvador Dali di Madrid, Spanyol. Termasuk dengan pematung Paris asal Polandia, Ossip Zadkine.

Sedangkan pelukis Belanda, ia mengenal dengan baik antara lain Frans Boers dan Roelofs. Menilik track record-nya, Agus Djaya adalah pelukis yang diperhitungkan pada zamannya. Salah satu bukti adalah kesempatan yang diberikan Museum Stedlijk di Amsterdam kepada Agus Djaya untuk memamerkan karya lukisnya di museum tersebut.

Putra pengawas hutan di zaman Kolonial Belanda ini, sebenarnya bercita-cita menjadi dokter. Apa lacur, garis hidup menyeretnya ke dunia seni lukis. Ini erat kaitannya dengan darah seni sang ibu yang mengalir pada dirinya. Bak musafir menjumpai oase, seperti itulah keadaan saat bakat melukisnya ditemukan Suwanda Mihardja, seorang guru menggambar yang kemudian mengarahkan Agus Djaya pada teknik-teknik dasar melukis.

Gelora seni rupa yang dibingkai suasana revolusi, melahirkan seseosok pelukis pejuang. Ia tidak saja mahir menyapukan kuas di atas kanvas, tetapi juga pandai membedil dan melempar mortir. Darah seni dan jiwa pejuang menyatu pada diri lelaki yang beristrikan Staniah ini.

Malang melintang di luar negeri, akhirnya kembali juga ke Tanah Air. Watak seniman, pantang mengemis-ngemis jabatan. Sebaliknya, ia makin tenggelam dengan dunia seni rupa, hingga suatu ketika ia memutuskan meninggalkan Ibukota, hijrah ke Kuta, Bali. Di sanalah ia mendirikan studio sekaligus gallery impian…di tepi Pantai Kuta yang indah.

Kontak dengan Bung Karno tentu tak lagi intens. Terlebih dengan kondisi kesibukan Bung Karno sebagai Presiden dengan mega-cita yang begitu gegap-gempita. Kepala Negara dengan begitu banyak kegiatan nation & character building. Panglima Tertinggi dengan aktivitas menumpas gerakan separatis dan menghadapi cobaan-cobaan pembunuhan. Paduka Yang Mulia dengan titah-titahnya yang senantiasa ditunggu rakyat.

Putuskah hubungan persahabatan seorang Sukarno dan Agus Djaya? Kalau presiden yang lain, bisa jadi…tapi tidak dengan presiden kita yang pertama ini. Ia mengingat dengan caranya. Ia tetap bersahabat dengan caranya. Ia tetap membantu dengan caranya.

Cara sukarno mengingat, bersahabat, dan membantu temannya sungguh elegan. Dalam setiap menerima tamu negara dari berbagai manca negara, dan teragendakan di Pulau Dewata, Bung Karno tidak akan pernah lupa menggiring para tamunya ke studio Agus Djaya di pantai Kuta. Di situ, Bung Karno bukan saja piawai bertutur tentang seni rupa, tetapi juga sangat lihai mendongkrak sosok perupa Agus Djaya.

Yang terjadi kemudian? Anda bisa tebak…90 persen lukisan yang terpajang, bisa langsung ludes diborong tamu-tamu negara tadi. Ada yang dibawa langsung (karena ukuran yang tidak terlalu besar), ada yang dibayar berikut ongkos pengiriman ke negara asal si tamu negara tadi. Sungguh, Bung Karno membuktikan bukan saja sebagai seorang sahabat yang baik, tetapi sekaligus “salesman” yang jempolan.

Biografi Singkat Seniman
Nama lengkapnya adalah Agus Djaya Suminta. Lahir di Pandeglang, Banten tahun 1913 dari keluarga bangsawan Banten. Dikenal sebagai kakak pelukis Indonesia lainnya, Otto Djaya, keduanya sejak kecil telah memperoleh pendidikan yang baik.

Bekerja sama dengan S. Sudjojono membentuk Persatoean Ahli-ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938-1942, dan duduk sebagai ketua pada kurun waktu tersebut. Selama pendudukan Jepang ia mengepalai Bagian Kesenian dari Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Sidosho) serta kemudian bekerja di organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat).

Selama masa revolusi Agus Djaya merupakan seorang kolonel dalam angkatan perang Indonesia. Selama hampir 4 tahun Agus Djaya berada di Negeri Belanda sebagai utusan “cultural diplomacy” dari Pemerintah RI yang baru terbentuk, untuk melakukan pendekatan dan upaya mempercepat Pemerintah Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan negara Indonesia.

Selama di Negeri Belanda, Agus Djaya mengikuti kuliah di Rijks Academie Beeldende Kunsten di Amsterdam dan belajar jurnalistik di Fakultas Jurnalistik, Universiteit Amsterdam (1947 – 1949).

Tahun 1950 Agus Djaya kembali ke Indonesia dia melakukan beberapa macam usaha, salah satunya membuka sebuah art shop serta galeri di Jakarta. Tahun 1955, Agus Djaya menetap dengan isterinya di Bali, mendirikan studionya di daerah Pantai Kuta. Selain melakukan pameran di Indonesia, juga berpameran di Belanda dan Brazil. Tahun 1994 menerima Hadiah Seni dari Pemerintah RI. Agus Djaya meninggal di Jakarta tahun 1994.

Bung Karno dan Agus Djaya

Advertisements