Tags

, , , , , , , ,

esther-one-night-with-the-king

Konon, sebagaimana diutarakan para filsuf, dan dikisahkan para pujangga di masa silam, kebesaran dan kejayaan sebuah bangsa tak hanya semata-mata disebabkan kekuatan militernya –tetapi karena integritas moral dan perilaku bangsa itu sendiri terhadap manusia. Kau boleh percaya atau tidak dengan hal itu, namun sebuah kisah harus tetap dilanjutkan, sebelum seperti yang telah dibilang, pada akhirnya harus disudahi. Tak lain karena hidup tak semata dongeng –namun juga tak ubahnya puisi yang harus terus ditulis ulang.

Kini kereta kuda yang dinaiki Misyaila, Siswi Karina, Ilias, Hagar, dan Sophia itu telah sampai di gerbang utama Negeri Farisa. Gerbang utama itu adalah juga pintu utama benteng yang sangat tebal dan tinggi yang melindungi dan mengelilingi Negeri Farisa. Benteng dan gerbang utama itu bernama Gerbang Benteng Farsana.

Dan seperti biasanya, kereta kuda yang mereka naiki itu pun segera menghilang begitu saja ketika mereka telah turun dan ketika kaki-kaki mereka telah menginjakkan tanah. Gerbang utama itu ternyata dijaga sejumlah prajurit dan tentara yang dilengkapi dengan pakaian dan topi pelindung dari bahan-bahan baja, besi, dan bahan-bahan lainnya. Senjata mereka terdiri dari pedang dan tombak, tapi bukan sembarang pedang dan tombak. Sebab tombak-tombak mereka juga berfungsi sebagai pesawat-pesawat terbang yang bisa mereka naiki ketika terjadi peperangan atau ketika terjadi situasi gawat-darurat yang hadir dan datang begitu saja.

Rupanya pimpinan prajurit dan tentara yang menjaga gerbang utama bernama Farsana itu telah mengenal Misyaila, namanya Jenderal Roshtam. “Selamat datang kembali, saudariku!” ujar Jenderal Roshtam kepada Misyaila, “dan siapa gerangan empat orang yang bersamamu ini?” Tanya Jenderal Roshtam. Mendengar pertanyaan Jenderal Roshtam tersebut, Misyaila pun segera memperkenalkan Siswi Karina, Hagar, Ilias, dan Sophia kepadanya. “Mereka-lah yang ingin kutawarkan untuk menjadi penduduk negeri ini.” Jawab Misyaila. “Jika demikian, sebaiknya kita segera menghadap Raja Nazad.”

Ternyata jarak dari gerbang utama ke pusat ibukota Negeri Farisa cukup jauh juga dengan hanya berjalan kaki. Dan sepanjang jalan itu pula tampak barisan prajurit dan tentara berbaris dengan khidmat dan rapih.

Dan sekarang mereka telah sampai di kediaman Raja Nazad, dan raja itu pun segera menyambut mereka dan mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi-kursi melingkar yang ada di kediaman tersebut. “Sudah lama sekali kau tak datang.” Kata Raja Nazad kepada mereka. “Beberapa waktu lamanya memang aku sengaja ingin mengetahui sejumlah negeri, dan timbullah keinginanku untuk mendatangi negeri yang pernah kukunjungi.” Balas Misyaila. “Negeri apa itu?” Tanya Raja Nazad. “Telaga Kahana.” Jawab Misyaila. “Oh rupanya negeri yang dulu dipimpin salah seorang sahabatku yang kini telah wafat itu!” ujar Raja Nazad. “Yah benar, “ kata Misyaila, “dan inilah anak-anak sahabatmu itu, yang ingin kutawarkan agar ia menjadi penduduk negerimu dan dilatih oleh para jenderalmu atau dididik oleh orang-orangmu yang cendekia.” Lanjut Misyaila.

Setelah sejenak terdiam, Raja Nazad akhirnya mengiyakan apa yang ditawarkan Misyaila tersebut. Sang raja itu pun memanggil beberapa prajurit untuk membawa Hagar, Ilias, dan Sophia ke sebuah tempat yang akan menjadi rumah mereka selama mereka telah diterima menjadi penduduk di Negeri Farisa tersebut.

Sementara itu, Siswi Karina dan Misyaila, diantarkan oleh beberapa prajurit dan tentara ke sebuah pemondokan yang berbeda, yang tak jauh dari kediaman Raja Nazad. Kala itu, di luar, waktu sebentar lagi menjemput siang-nya. Pemandangan dan suasana pedesaan yang mengelilingi pusat ibukota tersebut sangat indah. Lanskap lembah-lembah, bukit-bukit kecil serta beberapa gunung tampak jelas terlihat dari pusat ibukota Negeri Farisa tersebut. Memang, mayoritas penduduk tersebut dapat hidup dari hasil pertanian, peternakan, dan juga kerajinan, seperti kerajinan membuat perhiasaan dan senjata.

Di antara para penduduk yang hidup di sekitar lembah-lembah dan gunung-gunung itulah, hidup para empu dan sejumlah kecil orang-orang bijak bestari yang kadangkala diundang Raja Nazad untuk dimintai pendapatnya bila ada hal-hal penting menyangkut nasib Negeri Farisa, semisal bila ada ancaman agressi dari Negeri Amarik yang pernah datang dan menyerang Negeri Farisa dengan pesawat-pesawat aneh super canggih mereka yang memang terbilang belum dapat dibuat oleh orang-orang di negeri-negeri lain.

Ada pun negeri di mana Misyaila lahir, diciptakan, dan hidup adalah sebuah negeri yang jauh sangat berbeda dari negeri-negeri lainnya di muka bumi, karena negeri itu terletak di balik samudra yang teramat luas dan misterius, di mana di balik samudra tersebut ada dua gunung gaib yang belum dicapai dan diketahui manusia. Dan di antara dua gunung itulah terletak negeri di mana Misyaila berasal.

Sebagaimana Negeri Telaga Kahana yang juga dihuni oleh para penduduk setengah peri dan juga hanya dapat dijangkau oleh mereka yang memiliki kekuatan dan pengetahuan tertentu (seperti pengetahuan yang telah dikuasai oleh segelintir orang di Negeri Amarik), negeri di mana Misyaila berasal adalah negeri yang dihuni ragam makhluk dan penduduk yang ajaib. Cukup lama juga Misyaila berbincang dengan Raja Nazad dan Jenderal Roshtam setelah Ilias, Hagar, dan Sophia mendapatkan tempat tinggal mereka –sebelum Misyaila akhirnya pamit pergi sendirian.

Barangkali perlu sedikit diceritakan bahwa Bangsa Farisa dahulu kala juga disebut sebagai Bangsa Aryana yang di masa-masa mereka dulu itu mereka hidup berpindah-pindah dari satu padang stepa ke padang stepa yang lain dengan cara mendirikan tenda-tenda. Itu mereka jalani selama berpuluh-puluh tahun sebelum pemimpin mereka menetapkan sebuah wilayah, yang kini diberi nama Negeri Farisa, sebagai tempat tinggal mereka dan memerintahkan Bangsa Aryana untuk berhenti hidup berpindah-pindah tempat.

Sejak saat itulah mereka hidup bertani, berternak, dan sebagian lainnya menjadi para perajin –hingga mereka menjelma sebagai bangsa yang memiliki pemerintahan yang kuat yang dipimpin oleh raja-raja yang arif secara bergiliran dan bergantian. Selain hidup sebagai petani, peternak, dan perajian, tak sedikit dari para penduduk Negeri Farisa itu hidup sebagai nelayan –yang karena itu, banyak dari mereka kemudian menjadi ahli sebagai para pembuat kapal.

Hak cipta (c)Sulaiman Djaya (2015-2016)

Advertisements