Tags

, , ,

Cinta Menurut Imam Ali 2

“Orang yang berpikir dan mengembangkannya mencerminkan visi dan pandangannya ke depan” (Imam Ali bin Abi Thalib as)

“Apakah cinta itu?” demikian Jacques Derrida memulai polemiknya. “Apakah ketika seseorang mencintai seseorang lainnya adalah sebuah singularitas absolut? Apakah ketika seseorang mencintai seseorang lainnya, ia mencintai ‘siapa’ ataukah mencintai ‘hal-hal’ –tentang seseorang itu sendiri ataukah tentang penampilannya, kepandaiannya, kualitasnya?”

“The difference between the who and the what at the heart of love, separates the heart. It is often said that love is the movement of the heart. Does my heart move because I love someone who is an absolute singularity, or because I love the way that someone is?” demikian Jacques Derrida bertanya –sebagaimana dapat kau simak dalam film dokumenter tentang dirinya yang digarap oleh Kirby Dick dan Ziering Kofman di tahun 2002 itu.

Memang, cinta-lah yang membuat seseorang menyandang predikat ‘person’ dalam hidupnya, dan personalitas adalah manifestasi kepribadian.

Ketika engkau menyukai seseorang, pastilah karena engkau menyukai hal-hal yang terkait dengan seseorang tersebut: kecantikannya, ketampanannya, penampilannya, caranya berbicara, sikapnya, atau kesungguhannya dalam memperjuangkan perasaan sukanya. Sehingga pada saat itu –rasa sukamu pada ‘siapa’ seseorang tak terlepas dari ‘apa’ yang terkait dengan seseorang tersebut.

Ataukah kau mempercayai cinta yang tak terduga –hadir secara tiba-tiba, secara kebetulan begitu saja?

Marilah kita perluas apakah cinta itu setelah kau membaca pendapat dan pandangan Jacques Derrida itu. Sebagai contoh, misalnya, tak ada rasa suka tanpa pertemuan dan tanpa ada hubungan antara satu orang dengan yang lainnya. Artinya, cinta dimungkinkan ketika manusia hidup bersama –bukan hidup sendirian.

Saya sendiri tertarik untuk mengutip hikmah-nya Ali bin Abi Thalib, imam pertama dalam Islam, yang berbunyi: “Cinta itu seperti air –dengannya hidup segalanya. Seperti bumi –cinta bisa menumbuhkan semuanya.”

Jika kita renungi, hikmah itu lebih luas dan lebih kaya dalam memandang apa itu cinta –pengertian, makna dan cakupannnya, dari sekedar cinta yang dipahami hanya terkait relasi antara dua manusia semata.

Hikmah Ali bin Abi Thalib itu menyatakan secara hermeneutik dan alegorik bahwa cinta menyangkut sikap kita dalam hidup terkait dengan segala hal –tak semata spesifik menyangkut relasi dua manusia, tetapi suatu hukum semesta, agama, dan pengetahuan. Ali, washi-nya dan pintu gerbang ilmu dan hikmahnya Muhammad saw, itu pada dasarnya adalah maestro filsuf dan pujangga. (Sulaiman Djaya 2016)

Cinta Menurut Imam Ali bin Abi Thalib

Advertisements