oleh Sulaiman Djaya, esais dan penyair (Sumber: Radar Banten, 15 Maret 2013)

Sebagai sebuah tempat yang sakral bagi kaum muslim, mesjid tentu saja bukan sekedar tempat atau gedung. Begitupun secara historis, konsep mesjid sebagai tempat ibadah sebenarnya masih memiliki kesinambungan dengan tempat-tempat ibadah agama samawi sebelum Islam, semisal dengan sinagog, yang sama-sama mengenal dan memiliki mihrab atau tempat dan bagian paling sakral di bagian dalam dua tempat ibadah tersebut. Dan tentu saja, yang juga tak kalah menarik dan sama pentingnya adalah simbol-simbol arsitektural mesjid itu sendiri, yang menurut Syed Hossein Nasr, contohnya, tak dapat dilepaskan dari wawasan keagamaan masyarakat muslim itu sendiri dalam memaknai dunia, doktrin keagamaan, dan kepercayaan akan adanya kehidupan setelah kematian.

Biasanya, demikian menurut Syed Hossein Nasr, seni dan arsitektur Islam memiliki penekanan pada upaya penyimbolan tentang hal-hal yang bersifat sementara, fana, dan duniawi, dan hal-hal yang dimaknakan atau disimbolkan sebagai nilai-nilai dan makna-makna yang sifatnya ilahiah atau yang sifatnya mengacu kepada Realitas Tertinggi.

Nilai Estetik Ilahi
Bila demikian, apa yang hendak dimaknakan dan disimbolkan lewat hal-hal yang sifatnya mengacu kepada Realitas Tertinggi itu? Tak lain adalah kontemplasi total terhadap Tuhan, sebagaimana dapat dibaca dari makna sholat dan sujud itu sendiri. Di sini, mesjid adalah tempat di mana seorang muslim melakukan upaya untuk merenungkan diri sekaligus mendekatkan diri kepada Realitas Tertinggi tersebut. Sementara itu, ada banyak pemaknaan sejauh menyangkut Realitas Tertinggi itu sendiri dalam doktrin keagamaan dan pemahaman-penafsiran kaum muslim. Dalam filsafat metafisika Persia, misalnya, Ia dipahami dan dipercayai sebagai “substansi terakhir” atau “wujud murni”.

Lebih lanjut Syed Hossein Nasr mengatakan bahwa “wujud” itu sendiri dalam filsafat metafisika Islam dipahami sebagai entitas atau sesuatu yang terbangun dari aspek ketiadaan sebagai urutan dasar semua proses penciptaan, semisal ditunjukkan oleh estetika arabesca. Dikatakan secara filosofis dan konseptual, bahwa segala sesuatu yang tercerap oleh indra sebenarnya tidak nyata, karena yang mutlak nyata hanya Tuhan, dan realitas yang tercerap oleh indra adalah pancaran Realitas Tertinggi. Setidak-tidaknya begitulah secara abstraksi dan konseptual. Namun yang hendak dikatakan sesungguhnya adalah bahwa manusia bukanlah sang pencipta, melainkan makhluk ciptaan, dan Tuhan-lah sang pencipta.

Estetika Arabesca
Estetika arabesca, sebagaimana telah disebutkan, contohnya, masih menurut Syed Hossein Nasr, menyimbolkan aspek kesementaraan, dunia material, atau kefanaan, sekaligus merefleksikan transparansi cahaya Tuhan dengan jelas dan nyata. Dengan demikian, arabesca juga hendak menyimbolkan bahwa keindahannya merupakan keindahan yang sanggup memasuki kefanaan dan kehampaan inti materi yang sejati.

Di sana, arabesca dicapai melalui bentuk pengulangan geometrik yang dijalin melalui kehampaan, sekaligus juga menghilangkan kemungkinan adanya keterpakuan persepsi hanya pada satu objek saja.

Perkembangan Selanjutnya
Pada masa-masa selanjutnya, sejalan dengan kemahiran dan pencapaian estetik para seniman sesuai perkembangan jaman dan eskperimentasi estetik, dilakukan ikhtiar dan upaya-upaya yang lebih kaya dan eksperimentatif dalam menciptakan hiasan kaligrafi mesjid dengan menggunakan dan mengadaptasi ornamen tumbuhan, dan tentu saja unsur-unsur geometrik itu sendiri. Meski demikian, kepadatan hiasan tersebut masih tetap hendak menyimbolkan dan merepresentasikan makna kehampaan.

Di sana, semakin kaya hiasan objek estetik kaligrafi dan arabesca, maka semakin hampa-lah arabesca tersebut. Karena kehampaan menyimbolkan dan merepresentasikan kesakralan sekaligus menjadi pintu gerbang kehadiran Tuhan di dunia material atau dunia yang dipersepsi oleh indra. Sementara itu, simbol kubah misalnya, dianalogikan sebagai langit tertinggi yang menentukan ruang di bawahnya, sebagai sebuah inti yang menentukan lingkaran-lingkaran kosmis di sekitarnya. Semakin bernilai tinggi dan padat penampilan visualnya, maka perenungan tentang langit itu sendiri akan semakin tinggi dan luas.

Mesjid Sebagai Pusat Orientasi
Dalam simbolisme atau penyimbolan estetika Islam, mesjid itu sendiri dipahami sebagai pusat segala orientasi, di mana jalan-jalan menuju mesjid biasanya berupa lorong-lorong dan gang-gang, lalu kemudian menjadi amat terbuka dan luas ketika sampai di halaman mesjid. Pada saat itulah, hati atau jiwa yang sebelumnya tertekan selama menempuh perjalanan, tiba-tiba merasa bahagia dan lapang.

Penyimbolan yang tidak jauh berbeda juga dilambangkan dengan kubah, di mana ornamen-ornamennya yang rumit, yang melingkar ke atas, dan melingkar lagi hingga menuju kubah, lalu berhenti di satu titik, dan kemudian menembus alam raya melalui puncak kubah tertinggi, bermakna sebagai simbol kesulitan yang begitu hebat demi menuju sebuah titik kulminasi ke alam kebahagiaan, sebagaimana diujarkan salah-satu baris adzan yang berbunyi: “Marilah menuju kemenangan dan kebahagiaan”.

Dalam simbolisme estetik Islam, kubah dipahami sebagai simbol tauhid dan lambang kontemplasi tertinggi kepada Sang Pencipta. Di sini, nilai dan makna yang hendak disimbolkan mesjid adalah bahwa ia merupakan pintu utama menuju rumah Sang Pencipta. Dengan demikian, tak diragukan lagi, mesjid merupakan tempat di mana kaum muslim berusaha mencapai kontemplasi dan transendensi.

(Haram Imam Ridho as, Imam Ke-8 dari 12 Imam Ahlulbait, di Iran)

Advertisements