Tags

oleh Sulaiman Djaya, esais dan penyair (Sumber: Radar Banten 1 Maret 2013)

Para filsuf, ahli linguistik, bahkan kaum sufi, memiliki satu pendapat yang sama tentang humor, yaitu sebagai cermin paling nyata dari jiwa yang saleh dan lapang atau ciri dari seseorang yang memiliki jiwa dan kepribadian yang selaras, sekaligus menandakan kecerdasan dan intelegensia seseorang, di mana yang kedua ini tak lain karena humor mencerminkan daya nalar, kecakapan membangun dan menyusun argumentasi sejumlah pernyataan, narasi, dan proposisi dengan cara yang berlainan dari argumentasi biasa, dan pada saat bersamaan mencerminkan kearifan dan kebijaksanaan seseorang.

Secara fungsional dan intelektual, humor memang dianggap sebagai “media” dan “modus” wacana dan narasi yang paling tepat dan strategis sebagai upaya untuk mengkritik, menertawakan kebodohan, sekaligus menyingkap sisi-sisi pengetahuan dan kebijaksanaan dengan cara yang moderat dan arif. Dalam hal ini, dapat disebut, sebagai contohnya, figur-figur humoris yang nakal, namun pada saat bersamaan, memiliki kearifan dan kebijaksanaan yang mendalam, di luar commonsense dan tidak normatif, semisal Nasruddin Hoja, Bahlul, Hani Al-Arabiy, Abu Nawas, dan sejumlah figur dalam beberapa fabel dan hikayat kesusastraan Islam.

Figur-figur atau tokoh-tokoh tersebut seringkali digambarkan sebagai manusia-manusia tolol, nakal, nyeleneh, acapkali absurd dan melawan commonsense, namun ucapan dan perbuatannya justru mengandung kearifan dan menjadi penggugah kesadaran kepada kelemahan manusia sebagai mahluk tak berdaya di hadapan Al-Khaliq, sekaligus menyingkapkan diri kita sebagai manusia yang tak luput dari ketololan dan kebodohan, siapa pun diri kita.

Dari tokoh-tokoh humor tersebut, kemudian lahir tokoh-tokoh humor lokal di berbagai negara dan daerah. Di Jerman misalnya, ada Baron von Munchaussen yang merupakan duplikasi Nasruddin Hoja. Di Sunda ada Si Kabayan, di Jawa ada Man Doblang, di Bali ada Pan Balang Tamak, di Melayu Lebai Malang, dan banyak lagi yang lainnya.

Dalam tradisi dan sejarah Islam sendiri, Nabi Muhammad SAW juga dikenal memiliki sifat humoris. Contohnya, suatu hari pernah seorang nenek-nenek menanyakan kepada beliau, apakah dirinya pantas masuk surga. Jawab Rasulullah, di surga tidak ada nenek-nenek. Tentu saja Si Nenek menangis. Rasulullah segera melanjutkan, memang di surga tidak ada nenek-nenek karena semua nenek-nenek disulap menjadi gadis-gadis muda berstatus bidadari.

Para ahli hadits, menilai humor Rasulullah Saw tersebut, selain mengundang senyum arif, juga mengandung kabar gembira (busra). Terutama bagi kalangan lansia, yang terpacu untuk meningkatkan keimanan dan amal soleh. Persis di sinilah, bagi para ulama atau da’i modern, humor memiliki fungsi yang tidak remeh, acapkali menyumbang kualitas narasi dan wacana, yang tentu juga meniscayakan kepiawaian dalam mencari humor-humor baru yang dapat menjadi obat penawar kejenuhan, penghias retorika dan memacu mustami alias audience bin para pendengar atawa mukhotob alias yang diajak bicara semakin berminat kepada materi yang disajikan oleh para ulama atau pun para da’i.

Meskipun demikian, seperti dalam humornya Nabi SAW itu, humor dan cara bercanda Rasulullah SAW tidak pernah lepas kontrol, alias tidak berlebihan yang dapat menimbulkan dampak yang akan menyalahi dan mengingkari fungsi humor itu sendiri. Apa yang dilakukannya, tidak pernah melanggar kesopanan dan tidak ada mudaratnya.

Begitu pun, dalam literatur Islam masa lalu, cukup banyak tokoh-tokoh muslim yang telah menghasilkan karya-karya humor. Namun humor dan canda mereka selalu mengandung unsur akidah, muamalah dan akhlak. Di antaranya Nasruddin Hoja, Hani Al-Arabiy, dan Abu Nawas, seperti yang telah disebutkan. Para tokoh humor ini, digambarkan sebagai manusia-manusia unik. Dari ucapan dan perbuatan mereka, semuanya mengandung pedagogi yang sarat moderasi dan kearifan itu sendiri.

Jadi, di dalam Islam sama sekali tidak ada larangan humor dan cara bercanda. Tentu saja selama masih berada dalam koridor yang benar. Kita tidak diperbolehkan bercanda yang berlebihan hingga akhirnya jatuh pada ghibah atau olok-olok. Misalnya, memanggil nama seseorang dengan julukan cacat yang dimilikinya. Sebagai contoh, seorang yang kakinya mengalami kecacatan sejak lahir hingga jalannya agak terpincang-pincang, lalu kita panggil dengan Si Pincang. Meskipun panggilan itu benar, tapi bisa jadi olok-olok yang menyakitkan hati pemiliknya. Padahal, pastilah tidak ada orang yang ingin lahir dalam kondisi cacat.

Dalam Islam, Al-Qur’an juga telah melarang humor atau canda yang tidak sehat dengan tegas, semisal sikap olok-olok di atas, seperti yang tercantum dalam surat Al Hujurat ayat 11: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan-perempuan lain, karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”

Advertisements