Tags

, ,

oleh Sulaiman Djaya, esais dan penyair

Apa yang ingin saya bahas ini, yaitu: Apa Puisi dan Siapa Penyair? dalam kaitannya dengan puisi-puisi yang terkumpul dalam buku ini sesungguhnya dapat pula dipahami dan dimengerti sebagai upaya saya sendiri untuk bertanya dan kalau bisa menemukan jawaban sementara. Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini tentulah pula sebagai bentuk pandangan dan pendapat reflektif yang tak imun dari subjektivitas saya.

Bagi saya pribadi, sekedar contoh, kepenulisan puisi dan kepenyairan adalah masalah keterlibatan dengan kehidupan sehari-hari yang kita jalani, hadir dari ruang sejarah dan peristiwa-peristiwa sosial, politis, ekonomis, dan budaya dalam kehidupan kita. Bahwa menulis puisi adalah juga menyangkut kerja mengolah bahasa dan laku naratif yang sifatnya intelektual menjadi ‘buah seni’ adalah benar adanya, namun tentu saja, kita menggali bahan-bahan perenungannya dari pengalaman dan perasaan bathin kita yang sifatnya manusiawi, di mana bahasa itu berusaha diberi konteks hidup dan kehidupannya.

Umumnya karya-karya puisi dalam buku ini menyodorkan dan atau mewedarkan kritik sosial (dan politis) terkait kehidupan dan keseharian kita dalam konteks saat ini, yang acapkali pula zaman kita sekarang ini disebut abad komoditas dan era pasar. Namun tentu saja terkait praktik dan laku kepenulisan, upaya untuk mengangkat polemik dan kritik sosial melalui media sastra dan utamanya puisi mestilah pula didasarkan pada stilistika dan argumen yang kuat.

Saat saya membaca puisi-puisi dalam buku kumpulan puisi ini, saya dihadapkan pada puisi-puisi panjang, yang mohon maaf, akan terkesan ‘bertele-tele’ bagi para pembaca jika tidak dinarasikan dengan sedemikian apik, sehingga memiliki kemungkinan besar terjebak pada berkurangnya ‘daya puitik’ itu sendiri, tak lain karena lazimnya puisi yang demikian panjang dan cenderung naratif prosais, akan lebih menyerupai prosa yang mirip puisi ketimbang menjadi sebuah ‘dunia puisi’ yang padat makna dan memungkinkan ragam pembacaan (penafsiran) justru karena keringkasan dan kepadatan sebuah puisi. Dalam hal ini, yang hanya sebagai contoh saja, kita dapat ‘membaca’, misalnya, puisi karya D. Pebrian yang berjudul Seribu Industri Di Tanah Benteng:

“Dipandangnya selalu tembok yang membatasi mata
Gejolak jiwa tidak akan memberi dampak apapun
Sebab di tanah ini, tidak lagi berpihak pada pribumi
Ladang hijau menjadi cerobong-cerobong asap pabrik

Embusan napas yang mengayun dari tubuhnya
Hidup menetap di tengah hutan tembok
Lima belas tahun berlalu dengan keterbatasan

Sejak tanah ini sudah berganti pemilik
Tidak ada lagi terdengar burung bernyanyi…”

Puisi itu, ketika ingin melontarkan sebuah kritik sosial, menarasikan sebuah perubahan sosial dan geografis-ekologis sebuah tempat sembari menceritakan contoh seorang penghuninya, yaitu Bustomi, dari mula tempat dan hunian agraris (rural) menjadi kawasan industri, yang ternyata berdampak pula pada perubahan ekonomis dan mentalitas bagi para penghuni tempat itu sendiri, yang dalam puisi ini meminjam tokoh Bustomi:

“Bustomi masih saja memagut senja yang hendak pulang
Sepanjang siang ia hanya bekerja di hadapan mesin
Padahal dia lelaki yang pandai berkebun
Dahulu ditanamnya beraneka jenis buah dan sayuran

Tuntutan zaman yang tak bisa dibendung
Gaya hidup yang menggodanya
Bustomi tergiur dengan jumlah uang yang banyak
Ketika lahan dan kebunnya ditawar dengan harga yang tinggi
Ia mau menjual lahan dan kebunnya…”

Sangat terang sekali, puisi tersebut hendak mengkritik mentalitas orang pribumi, yang dalam hal ini dicontohkan dengan tokoh Bustomi, yang memilih menjual tanahnya karena tergiur jumlah nominal uang yang lumayan besar dibanding pendapatan kesehariannya dan banyak juga dari orang-orang pribumi selain Bustomi, yang kemudian menjadi buruh pabrik ketimbang mengembangkan kemampuan dan kapasitas mereka sendiri, semisal mengembangkan ekonomi kreatif yang diasah dari kecakapan diri kita untuk mengolah apa saja menjadi komoditas yang dapat menghasilkan uang atau pendapatan (surplus), semisal kecakapan dan kapasitas Bustomi sebagai pekebun yang baik dan bagus, yang malah justru menjual tanahnya tempat ia berkebun dan menghasilkan bahan pangan yang sebenarnya bisa ia jual dan bisa ia kembangkan dengan lebih maju:

“Ia tak sempat memikirkan masa depan
Tidak juga ia bekerja, sebab ia hanya bisa berkebun
Tidak jua bisa berkebun lagi
Lahannya telah berganti pemilik….”

Dalam konteks resepsi dan pembacaan, ada beberapa resiko membaca puisi naratif yang panjang jika puisi bersangkutan kurang merayu dan menarik para pembacanya untuk ikut terlibat dalam peristiwa dan isu yang diangkat puisi bersangkutan, termasuk puisi yang mengangkat isu dan tema kritik sosial (dan politis) seperti jelas dapat kita baca melalui puisi-puisi yang terkumpul di buku ini. Misalnya para pembaca akan jenuh dan merasa lelah, dan lalu menghentikan pembacaan sebelum mereka membaca keseluruhan sebuah puisi atau malah mereka akan enggan meneruskan pembacaan bila baris-baris pertamanya dirasa tidak menarik bagi mereka, tidak memancing minat mereka pada isu atau tema yang hendak disodorkan kepada para pembaca.

Kita, para penulis yang acapkali mengandalkan karya-karya tulis kita sebagai penopang hidup keseharian kita, tak mungkin mengingkari bahwa kita ingin berdialog dengan para pembaca karya-karya kita. Mereka adalah para penerima pesan kita ketika kita hendak mengutarakan pendapat dan pandangan kita sejauh menyangkut hidup dan soal-soal lainnya, entah tentang realitas sosial, pengalaman individual, atau pun narasi yang mengangkat tokoh tertentu dalam realitas sosial dan sejarah kehidupan keseharian kita. Dan tentu juga, puisi adalah substansi estetik yang berbeda dengan bahasa komunikasi biasa. Puisi adalah seni, dan karena ia seni, disampaikan dan dituliskan dengan unsur keindahan.

Tak jauh berbeda dengan puisi yang ditulis D. Pebrian, meski hanya sekedar menarasikan lanskap pengalaman, adalah puisi Balada Cinta Perawan Desa yang ditulis Fahruddin Salim, yang sebenarnya ‘masih bisa dikembangkan’ menjadi sebuah puisi epik yang tak sekedar menceritakan pengalaman sentimentil yang verbal:

“Malam terus bergulir dan siang tidak pernah menyembunyikan cahaya
Sepotong senja terus mengalirkan kehidupan….

Di Banten Selatan yang menyimpan banyak cerita….”

Terkait dengan pembacaan puisi-puisi yang terkumpul dalam buku ini, yang menghadirkan suara-suara kritik sosial kepada para pembaca, tentulah kita maphum bahwa kritik sosial dengan media sastra berbeda dengan yang dinarasikan tulisan non-sastra. Terlebih puisi, mestilah dihadirkan ke hadapan pembaca dengan mempertimbangkan unsur-unsur estetik dan aspek-aspek literer yang akan membentuk ‘dunia puisi’ itu sendiri. Begitu pun pilihan bentuk naratif akan berpengaruh pula bagi keseluruhan struktur bunyi dan ‘keindahan’ puisi. Entah bercerita tentang diri si penulisnya, tentang orang lain, atau tentang keduanya sekaligus dalam sebuah puisi, seperti puisinya Jodhi Yudono yang bertajuk Baduy…Apa yang Terjadi?

“Kami kini saling berhadap-hadapan
pada sebuah senja di kawasan Tanah Abang
udara gerah, mendung urung gugurkan hujan
saat bersalaman, aku menatap matanya yang gelisah….”

Sebuah puisi yang berusaha ‘membangun suasana’ ketika ingin menghadirkan kritik sosial kepada para pembaca dengan meminjam ‘pandangan’ dan ‘mata bathin’ orang yang datang ke kota tempat ia menjumpai realitas tempat dan geografi yang berbeda, meski dalam beberapa hal, tak berbeda dengan tempat tinggal orang-orang Baduy saat ini yang ternyata tak lagi sanggup ‘menghadang’ laju perkembangan tekhnologi dan modernitas yang demikian massif dan cepat merambah batasan-batasan kota-desa, bangsa-negara, dan perbedaan benua di dunia tempat kita hidup sekarang ini:

“Sebab tiada lagi sisi-sisi yang membatasi
kita pun tersesat di dalamnya
Bersama moral yang berserakan
di lantai gedung-gedung negara dan swasta…

Toni hanya merasa terpukul
Nasibnya dari sisi yang lain
Ikut terampas”

Puisi tersebut, sebenarnya, bisa saja ditulis dan dihadirkan kepada para pembaca dalam bentuk puisi singkat dan tidak terlalu panjang, di mana puisi-puisi singkat yang padat makna acapkali lebih memukau dan mempesona bagi para pembaca, meski tak menutup kemungkinan bahwa puisi naratif yang panjang sanggup mengajak para pembaca untuk terlibat mengiyakan atau bahkan menolak isu dan pandangan yang ada dalam sebuah puisi, tergantung pada kepiawaian kita mengolah bahasa, membangun retorika dan stilistika narasi dan daya ungkap.

Saya sendiri ragu, apakah prosentasi pembaca puisi di jaman ini meningkat atau malah menurun. Jaman ketika orang-orang lebih sibuk memainkan jari-jemari tangan mereka dan memfokuskan mata serta menghabiskan waktu mereka pada android: berselancar di dunia maya dan jejaring sosial semisal fesbuk, instagram, twitter dan yang sejenisnya. Namun keraguan saya itu sedikit terobati ketika ternyata masih ada anak-anak muda yang menulis puisi, seperti orang-orang muda yang karya-karya terkumpul dalam buku ini.

Yang barangkali agak berbeda dari puisi-puisi yang ditulis oleh para penulis lainnya dalam buku ini adalah puisi yang ditulis oleh Laora Arkeman, meski secara stilistik dan pilihan bentuk narasinya masih sama dengan para penulis lain di buku ini, ketika Laora mengangkat Multatuli sebagai cermin dan rekaman historis yang sifatnya mengangkat biografi seseorang yang berusaha ia baca ulang dan ia hadirkan kepada para pembaca dalam rangka ‘mengajak’ para pembaca untuk melakukan pembacaan ulang pula:

“Kala itu 1839
Eduard jadi pegawai negeri
Dewan Pengawas Keuangan
……..
Tiba-tiba Eduard berhenti kerja…..”

Yang dengan meminjam tokoh Eduard Douwes Dekker atau Multatuli itu, si penulis hendak menyuguhkan kritik sosial-politis di negeri kita ini, semisal mengkritik perilaku politik yang korup yang kerap dilakukan dan dipraktikkan oleh para pejabat dan aparatur pemerintahan, atau oleh siapa saja dalam lingkup di mana saja dan institusi apa pun:

“1842, Eduard pinda ke Sumatera Barat
yang ketika itu masih ada pergolakan
di bawah pimpinan Jenderal Michiels
Juli Eduard pindah lagi
ke Natal sebagai kontrolir,
Namun, setahun kemudian Eduard dipecat
dituduh korup
di Padang Hulu, dia ditahan
dirumahkan
dipaksa mengganti kerugian…..”

Saya sengaja mengajukan pertanyaan: Apa Puisi dan Siapa Penyair? yang sekaligus menjadi judul tulisan ini karena menurut saya puisi lahir bersama jamannya. Puisi lahir dan ditulis oleh penyair dari kehidupan, dalam arti puisi tidaklah lahir dari ruang hampa yang tercerabut dari kondisi manusiawi yang berjalan bersama sejarah, bersama kondisi-kondisi sosial-kultural-politis, bahkan eksistensial. Singkat kata, puisi lahir dari rahim sejarah dan kondisi kemanusiaan sebagai sebuah refleksi dan sikap seorang penyair menjalani dan memandang hidup. Karena itu tak jarang puisi juga mencerminkan ideologi dan pandangan-pandangan tertentu yang sedang dianut dan dipercayai. Di sini saya yang ingin mengangkat contoh sementara lainnya, yaitu puisi berjudul Tanah Luhur Pasir Rokok yang ditulis oleh Saefullah:

“Memang lama jarang mampir di bumi tanah kelahiran
hanya disaat lebaran saja kaki bersinggah
ibu selalu bercerita keramaian di hutan bebukit itu
malam selalu terang ketika melintas

sehingga banyak cerita di hutan bebukit itu
berbalik tak menyeramkan seperti di zaman-zaman sebelumnya
jangankan malam sore saja sudah sepi mencekam
apalagi malam lebih mencekam

belum lagi dengan cerita zaman berkembangnya begal
yang nekat mengambil motor korban…
……………………………………………
Tak sanggup berpaling ke belakang berhenti sejenak
Memupuk rindu menghitung jeda aktivitas
Memaksakan waktu hijrah kembali ke tanah kelahiran….”

Puisi yang ditulis Saefullah itu adalah contoh sebuah narasi yang mengisahkan perubahan sosial dan geografis-ekologis suatu tempat, yang dalam konteks puisi itu adalah Pasir Rokok, karena datangnya era komoditas dan abad sebuah dunia di mana perkembangan tekhnologi informasi sedemikian mengglobal, dunia kita saat ini, yang acapkali berdampak pula pada perubahan yang tak terduga. Bagaimana sebuah tempat yang merupakan ‘artefak’ dan ‘rekaman’ historis sebuah bangsa atau masyarakat begitu mudah terancam kehilangan makna historisnya hanya karena kepentingan pasar dan finansial. Puisi itu, sebagaimana puisi-puisi yang lain dalam buku ini, menempatkan diri sebagai upaya untuk menyuarakan kritik sosial pula dalam rangka meminta dirinya untuk direnungkan sebagai bahan ‘pembelajaran’ bagi para pembaca, sebagaimana puisi Baduy Aapa yang Terjadi? yang ditulis oleh Jodhi Yudono:

“O…zaman yang menua
Mengirimkan serta rupa-rupa bencana
Rumah-tumah terbakar
Lumbung-lumbung padi tak lagi berisi
Burung pipit lari pergi
Kupu-kupu termangu
Bunga-bunga layu
Madu menjelma debu…”

Di mana puisi itu merupakan refleksi dari peristiwa kebakaran yang menimpa pemukiman (perkampungan) orang-orang Baduy di Lebak, Banten Selatan beberapa waktu yang lalu, yang dengan demikian pula puisi tersebut sekaligus cermin komitmen kemanusiaan penulisnya, sembari mengajukan kritik sosial dan laku restrospektif sekaligus instrospektif bagi orang Baduy dan bagi diri kita:

“Kucari engkau Baduy
Untuk aku bertanya dan bersandar…
………………………………………
Baduy, Baduy apa yang terjadi?”

Sebagaimana yang telah saya katakan, karya sastra, yang dalam hal ini puisi, tidaklah lahir dan ditulis dari ruang vakum atau ruang hampa yang terlepas dari peristiwa-peristiwa sosial, budaya, ekonomis, dan politis. Haruslah diakui oleh kita bahwa kerja-kerja kepenulisan dan kebudayaan tidak pernah tercerabut dari jalan sejarah dan komitmen kita kepada kemanusiaan, sebab kerja kepenulisan tidak berada di ruang vakum peristiwa sosial-budaya, ekonomi dan politik. Kita hidup dalam dunia, bukan berada di luar dunia. Dan setidak-tidaknya, puisi-puisi yang terkumpul dalam buku, membuktikan kepedulian dan konektivitas para penulisnya kepada keseharian manusiawi jaman kita saat ini dengan menghadirkan karya-karya yang menyuarakan kritik sosial. Kita percaya, kepenyairan tak dapat dilepaskan dari sikap kita pada hidup dan kehidupan, sebagai bentuk komitmen kita kepada sejarah dan kemanusiaan.

Dalam kadar yang demikian, sudah merupakan sesuatu yang lazim bahwa puisi adalah cerminan geliat dan ruh hidup. Acapkali puisi merupakan modus mengada dan metode seorang penyair untuk mengajukan dan menawarkan pandangan dan sikap hidup itu sendiri. Puisi digali dan ditulis dari relung jiwa kehidupan dan keseharian manusiawi bersama sejarah, dari pertarungan dan perjalanan manusia sebagai ‘Sang Pengada’ dalam lautan banalitas dan kedalaman sejarah. Karena itulah puisi acapkali mengandung kearifan.

Bagi saya pribadi, beberapa tahun belakangan ini, karya-karya puisi dalam kerja kepenulisan dan ikhtiar intelektual kesusastraan Indonesia semakin tampak ‘tergiring’ pada kecendrungan menjadi prosa yang ‘mirip’ puisi, yang acapkali bahkan mirip cerita sangat pendek ‘yang dianggap sebagai puisi’. Apakah ini merupakan suatu perkembangan yang inovatif ataukah sebaliknya, jawabnya tergantung pada pilihan perspektif kita untuk membaca dan melihatnya, meski saya sendiri akan memandangnya dalam perspektif yang sebaliknya, dan Anda berhak pula berbeda pandangan dengan saya.

Barangkali meruaknya kecendrungan prosa sangat pendek yang didaku sebagai puisi tersebut dilatari oleh ‘kebosanan’ pada bentuk liris yang ‘konvensional’ dalam kerja kepenulisan sastra puisi Indonesia dari sejak Amir Hamzah hingga saat ini.

Belakangan ini, baik yang dapat dibaca di publikasi cetak seperti buku, jurnal, koran, dan majalah atau di media-media online, banyak sekali puisi yang lebih mirip celoteh dan gumam prosaik berkarakter gelap yang ditulis dalam keadaan mabuk dan spontanitas, bukannya oleh kepiawaian craftmanship menggubah komposisi. Meski demikian, tak jarang puisi-puisi liris konvensional beberapa tahun belakangan dalam jagat kepenulisan puisi dan kepenyairan di Indonesia masih tetap sanggup menghadirkan diri mereka dengan narasi dan suara yang segar sesuai dengan perkembangan praktik kebahasaan dan adaptasi atau kompromi jaman dalam praktik menulis dan dalam percakapan komunikatif keseharian.

Terkait hal itu, rasanya saya perlu juga mengemukakan bahwa puisi adalah praktik penulisan yang mengoptimalkan metafora. Dan sejauh menyangkut apa itu kiasan atau metafora, tentu ada ragam pengertian dan pemahaman. Namun di sini saya ingin mengutip beberapa pengertian tentang apa itu metafora menurut sejumlah ahli bahasa sebagaimana dikutip dan dipaparkan Jafar Subhani (lihat Jafar Subhani, Al-Amtsal fil Quran, Penerbit Al-Huda, Jakarta Januari 2007), yang salah-satunya adalah definisi yang dikemukakan oleh Ibrahim An-Nizham (wafat tahun 231 Hijriah):

“Dalam kiasan (perumpamaan) terhimpun empat hal yang tidak dimiliki oleh kalam (narasi atau pernyataan) yang lain. Pertama, keringkasan kata atau kalimat. Kedua, ketepatan makna. Ketiga, kebagusan pengkiasan dan pengumpamaan. Keempat, keindahan pengkiasan atau pengumpamaan. Dengan keempat hal itulah sebuah ungkapan (narasi) telah mencapai puncak kefasihan.”

Karya sastra, tentu saja yang dalam hal ini adalah puisi, menjadi unik dan berhasil karena merayakan konotasi, ambivalensi, dan polifoni demi menghidupkan watak simbolik sastra itu sendiri dengan mengoptimalkan metafor, alegori, hiperbola, ironi, dan lain sebagainya. Bukankah sastra menjadi unik karena terus-menerus bersimpati pada ironi dan subjektivitas bukannya objektivitas? Dan karena sifat dan lakunya yang demikian itulah, sastra mengajarkan sikap terbuka dan mempraktikkan polah dan laku yang toleran bagi para pembacanya.

Juga sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sastra yang melukiskan segi-segi umum dan kebanyakan hanya akan berujung pada kegagalan etos dan watak sastra itu sendiri. Ia tak ubahnya ilmu sosial. Sastra menjadi hidup justru karena menghidupkan polisemi kata, memaksimalkan konotasi, dan menggalakkan ironi, dan tentu saja tidak hanya menciptakan kebaruan makna referensial, tetapi juga makna tekstual. Dalam hal ini, fungsi bahasa bukan hanya untuk menjelaskan, tetapi juga untuk menyembunyikan.

Sastra menjadi unik bukan karena verbalisme-nya, melainkan karena kelihaiannya untuk menyembunyikan makna. Umberto Eco akan menyebutnya sebagai Opera Aperta atau The Open Work (karya terbuka), di mana suatu teks sastra menjadi kaya dan unik karena teks tersebut menciptakan suatu dunia, suasana, dan peristiwa yang bisa ditafsirkan secara bebas (heterogen) oleh pembacanya dan lebih informatif ketimbang traktat sains.

Sementara pada tingkatan yang lebih ekstrem, Jacques Derrida menyebutnya sebagai disseminasi, penyebaran keragaman penerimaan (pembacaan), penafsiran, dan pemaknaan, di mana makna tidak selalu berkaitan dengan referensi, nilai dan keyakinan metafisis, penanda transendental dan rujukan moral, tetapi oleh kumungkinan jalinan kata dan bahasa dalam teks itu sendiri. Dengan demikian citra dalam sastra selalu bersifat simbolik, seringkali menerobos formalisme bahasa dan menjadikannya sebagai ekspressi yang personal. Milan Kundera akan menyebutnya dengan polifoni-teks. Laku dan polah simbolik sastra itulah yang memungkinkan sastra bersifat universal.

Namun tentulah, pendapat dan pandangan reflektif-subjektif saya ini sekedar salah-satu ‘perbandingan’ bagi pandangan-pandangan dan pendapat-pendapat yang lain, dan tentulah pula para pembaca puisi-puisi dalam buku ini berhak pula ‘memaknai’ dan ‘menafsir’, singkatnya: membaca dan mengakrabinya, sesuai dengan kapasitas dan lingkup pembacaan mereka masing-masing. Selamat membaca! Salam dan terimakasih!

Advertisements