Diplomasi Bunga Soekarno (Korea Utara Memandang Indonesia)

Tags

, , , , , , , , ,

Siswa Korea Menyanyikan Lagu Indonesia

Sejauh menyangkut hubungan antar negara di dunia ini, negara yang sangat dihormati Korea Utara adalah Indonesia, selain Rusia dan China.

Presiden Soekarno telah banyak menjalin persahabatan dengan negara lain, terutama dengan negara-negara yang dinilai anti Amerika (hingga konon lengsernya Bung Karno juga dikarenakan adanya campur tangan Amerika) diantaranya: Kuba, Tiongkok (China), Uni Soviet (kini Federasi Rusia), dan Korea Utara.

SOEKARNO DAN KIM IL SUNG
Sejak dulu Korea Utara selalu mendapatkan pertentangan Barat-Amerika dkk, terkait paham ideologi mereka, juga karena aliansi Korea Utara yang cenderung ke poros Rusia-Cina. Dalam kasus Suriah saat ini, contohnya, Korea Utara berpihak kepada aliansi Cina, Rusia, Iran dkk untuk menghadapi imperialisme Amerika, Israel, Rezim Saudi Arabia dkk, NATO dkk yang menggunakan kelompok-kelompok pemberontak dan fron-fron teror seperti ISIS untuk menggulingkan Presiden Suriah Bashar Al-Assad.

Namun Indonesia tak memandang ini sebagai sebuah tembok besar yang menghalangi dua negara untuk menjalin hubungan. Presiden Soekarno sendiri untuk pertama kalinya mengunjungi Korea Utara di tahun 1964.

Sambutan kepada Presiden ternyata sangat bagus dan apresiatif. Bahkan Kim Il Sung juga membalas kunjungan ini bersama anaknya Kim Jong Il di bulan April tahun 1965. Kehadiran mereka berdua kala itu, sekaligus untuk mengikuti peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika pertama yang diadakan pada tahun 1955 di Bandung. Di KAA pertama itu, Soekarno memberikan wadah bagi Korea Utara untuk bisa berkiprah di dunia Internasional.

Duta Besar Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK), sering disebut Korea Utara, Ri Jong Ryul, misalnya, mengatakan presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno dan pendiri sekaligus presiden DPRK Kim Il Sung memiliki hubungan yang istimewa. “Hubungan antara Presiden Soekarno dan Presiden Kim Il Sung sangat istimewa dan tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Presiden Soekarno juga dikenal baik oleh rakyat DPRK,” ujar Ri Jong Ryul.

Menurut Ri, eratnya hubungan Soekarno dan Kim Il Sung dimulai sejak tahun 1964 ketika Proklamator Indonesia itu melakukan kunjungan resmi ke DPRK (Korea Utara), yang dibalas dengan kunjungan Kim Il Sung dan anaknya Kim Jong Il ke Indonesia pada April 1965.

Pada tanggal 13 April 1965, Kim Il Sung, Presiden Korea Utara saat itu, melakukan kunjungan ke Indonesia. Untuk menyenangkan tamunya, Presiden Soekarno mengajak Kim Il Sung berjalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Ketika mereka melewati deretan tanaman anggrek yang sedang mekar, Kim Il Sung tampak begitu terpesona dengan anggrek jenis “dendrobium” asal Makassar, Sulawesi Selatan.

Kim Il Sung mengungkapkan bahwa anggrek itu begitu indah dan warna merah muda yang indah menunjukkan keanggunan dan martabatnya.

Melihat tamunya tertarik dengan bunga tersebut, Presiden Soekarno pun memberikan anggrek tersebut pada Kim Il Sung sebagai hadiah ulang tahun. Pada saat itu Presiden Soekarno pun berinisiatif memberi nama anggrek itu dengan perpaduan nama Kim Il Sung dan Indonesia, dan jadilah nama “Kimilsungia” atau dalam Bahasa Korea disebut “Kimilsunghwa” (bunga Kim Il Sung).

Anggrek itu pun dibawa ke Korea Utara untuk dirawat dan dikembangbiakkan menjadi lebih baik. Sejak saat itu “Kimilsungia” ditetapkan sebagai bunga nasional Korea Utara. Di Korea Utara “Kimilsungia” memiliki 7 kuntum tiap tangkai, sedangkan di Indonesia rata-rata hanya memiliki 3 kuntum.

“Karena itulah negara kami tidak akan pernah melupakan Indonesia,” ujar Ri, yang negaranya pada bulan April setiap tahunnya, sejak tahuh 1999, merayakan Festival Kimilsungia untuk memeringati ulang tahun Kim Il Sung dan menghormati hubungan dengan Indonesia. Dalam festival ini segala macam varian bunga terutama anggrek dipamerkan. Diplomasi ala bunga ini menjadikan Indonesia memiliki tempat istimewa di hati rakyat Korea Utara.

Bahkan Pemerintah Indonesia adalah satu-satunya pihak yang mendapat kehormatan untuk menyampaikan kata sambutan tiap festival ini berlangsung. Diplomasi ala Bunga ini juga membuat hubungan Indonesia dan Korea Utara menjadi dekat, sehingga sampai saat ini Indonesia dan Korea Utara sering melakukan pertukaran budaya. Tak heran bahwa bunga Kimilsungia dianggap juga sebagai simbol persahabatan Indonesia dan Korea Utara.

Gadis Korea Utara

Members of the North Korean girl group Moranbong arrived in Beijing

Gadis Korea Utara 2

Filsafat Cinta –dari Imam Ali hingga Jacques Derrida

Tags

, , ,

Cinta Menurut Imam Ali 2

“Orang yang berpikir dan mengembangkannya mencerminkan visi dan pandangannya ke depan” (Imam Ali bin Abi Thalib as)

“Apakah cinta itu?” demikian Jacques Derrida memulai polemiknya. “Apakah ketika seseorang mencintai seseorang lainnya adalah sebuah singularitas absolut? Apakah ketika seseorang mencintai seseorang lainnya, ia mencintai ‘siapa’ ataukah mencintai ‘hal-hal’ –tentang seseorang itu sendiri ataukah tentang penampilannya, kepandaiannya, kualitasnya?”

“The difference between the who and the what at the heart of love, separates the heart. It is often said that love is the movement of the heart. Does my heart move because I love someone who is an absolute singularity, or because I love the way that someone is?” demikian Jacques Derrida bertanya –sebagaimana dapat kau simak dalam film dokumenter tentang dirinya yang digarap oleh Kirby Dick dan Ziering Kofman di tahun 2002 itu.

Memang, cinta-lah yang membuat seseorang menyandang predikat ‘person’ dalam hidupnya, dan personalitas adalah manifestasi kepribadian.

Ketika engkau menyukai seseorang, pastilah karena engkau menyukai hal-hal yang terkait dengan seseorang tersebut: kecantikannya, ketampanannya, penampilannya, caranya berbicara, sikapnya, atau kesungguhannya dalam memperjuangkan perasaan sukanya. Sehingga pada saat itu –rasa sukamu pada ‘siapa’ seseorang tak terlepas dari ‘apa’ yang terkait dengan seseorang tersebut.

Ataukah kau mempercayai cinta yang tak terduga –hadir secara tiba-tiba, secara kebetulan begitu saja?

Marilah kita perluas apakah cinta itu setelah kau membaca pendapat dan pandangan Jacques Derrida itu. Sebagai contoh, misalnya, tak ada rasa suka tanpa pertemuan dan tanpa ada hubungan antara satu orang dengan yang lainnya. Artinya, cinta dimungkinkan ketika manusia hidup bersama –bukan hidup sendirian.

Saya sendiri tertarik untuk mengutip hikmah-nya Ali bin Abi Thalib, imam pertama dalam Islam, yang berbunyi: “Cinta itu seperti air –dengannya hidup segalanya. Seperti bumi –cinta bisa menumbuhkan semuanya.”

Jika kita renungi, hikmah itu lebih luas dan lebih kaya dalam memandang apa itu cinta –pengertian, makna dan cakupannnya, dari sekedar cinta yang dipahami hanya terkait relasi antara dua manusia semata.

Hikmah Ali bin Abi Thalib itu menyatakan secara hermeneutik dan alegorik bahwa cinta menyangkut sikap kita dalam hidup terkait dengan segala hal –tak semata spesifik menyangkut relasi dua manusia, tetapi suatu hukum semesta, agama, dan pengetahuan. Ali, washi-nya dan pintu gerbang ilmu dan hikmahnya Muhammad saw, itu pada dasarnya adalah maestro filsuf dan pujangga. (Sulaiman Djaya 2016)

Cinta Menurut Imam Ali bin Abi Thalib